Panduan Umrah Ringkas (1)
Bagaimana
panduan umrah yang praktis dan ringkas? Umrah adalah suatu amalan yang
mulia, di mana tata cara pelaksanaannya mesti dilakukan dengan benar dan
sesuai tuntunan Islam, bukan asal-asalan.
Sebelum Mengenakan Pakaian Ihram
1- Memotong kuku, menipiskan kumis, mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan.
2- Disunnahkan untuk mandi termasuk bagi wanita haidh dan nifas.
3- Laki-laki hendaklah melepaskan pakaian yang membentuk lekuk tubuh dan mengenakan pakaian ihram.
4- Wanita hendaklah melepas penutup wajah dan tidak mengenakan sarung tangan.
5-
Setelah mandi, laki-laki disunnahkan memakai wewangian di badannya
saja. Sedangkan wanita boleh memakai wewangian yang tidak nampak baunya.
6- Setelah melakukan itu semua, hendaklah berniat masuk dalam manasik dengan mengucapkan, “
Labbaik allahumma ‘umrah” (Aku memenuhi panggilan-Mu -ya Allah- untuk menunaikan ibadah umrah).
Jika
sudah mengucapkan seperti itu, maka sudah disebut berihram sehingga
tidak boleh melakukan larangan-larangan ihram. Jika niat tersebut
dijadikan setelah shalat wajib, maka itu lebih baik. Jika tidak
bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka dilakukan shalat sunnah dua
raka’at dengan niatan shalat sunnah wudhu. Sedangkan shalat sunnah ihram
seperti yang dilakukan oleh sebagian jama’ah umrah tidaklah ada
tuntunannya.
Mengenal Miqot Makaniyah
Miqot makaniyah yaitu tempat mulai berihram bagi yang punya niatan haji atau umroh. Ada lima tempat miqot:
1- Dzulhulaifah (Bir ‘Ali), miqot penduduk Madinah
2- Al Juhfah, miqot penduduk Syam,
3- Qornul Manazil (As Sailul Kabiir), miqot penduduk Najed (Riyadh sekitarnya),
4- Yalamlam (As Sa’diyah), miqot penduduk Yaman,
5- Dzatu ‘Irq (Adh Dhoribah), miqot penduduk Irak.
Itulah
miqot bagi penduduk daerah tersebut dan yang melewati miqot itu. Wajib
bagi setiap yang ingin melaksanakan haji atau umrah ketika ia melewati
miqot tersebut, hendaklah berniat ihram. Jika ada yang melewati miqot
tanpa beihram -dengan sengaja-, wajib kembali dan berihram dari tempat
tersebut lagi. Jika tidak, maka baginya
damm dengan menyembelih satu ekor kambing dan disalurkan pada orang-orang miskin di Makkah.
Larangan Ihram
1- Mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut kepala, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot).
2- Menggunting kuku.
3- Menutup kepala dan menutup wajah bagi perempuan kecuali jika lewat laki-laki yang bukan mahrom di hadapannya.
4- Mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, celana dan sepatu.
5- Menggunakan wewangian.
6- Memburu hewan darat yang halal dimakan.
7- Melakukan khitbah dan akad nikah.
8- Jima’ (hubungan intim).
9- Mencumbu istri di selain kemaluan.
Yang Masih Dibolehkan Saat Ihram
1- Mengenakan: Jam tangan, headset, cincin, sendal, kacamata, ikat pinggang, tas pinggang, payung, perban
2- Merubah posisi pakaian ihram
3- Mencuci pakaian ihram
4- Mandi, membersihkan kepala dan badan
5- Rambut rontok tanpa disengaja
Talbiyah
Waktu mulai talbiyah adalah ketika ihram hingga saat memulai thawaf.
Bacaan talbiyah:
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ.لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.إِنَّ
الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ.لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“
Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”.
(Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku
menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu,
tiada sekutu bagi-Mu). Ketika bertalbiyah, laki-laki disunnahkan
mengeraskan suara.
Sampai di Makkah
Jika
yang berumrah sudah sampai di Makkah Al Mukarramah disunnahkan baginya
untuk mandi ketika sampai, lalu ia pergi ke Masjidil Haram untuk
menunaikan manasik umrah. Jika tidak mandi, tidaklah masalah.
Ketika akan memasuki Masjidil Haram, hendaklah membaca do’a masuk masjid,
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“
Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).
Thawaf Umrah
Kemudian orang yang berumrah menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf di sekelilingnya. Hendaknya laki-laki melakukan
idhtiba’
yaitu dengan membuka pundak kanan dan menjadikan ujung kanan di bawah
ketiak, lalu menjadikan ujung yang satu sisi di pundak kiri.
Setelah
itu dilakukan thawaf sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari Hajar
Aswad. Jika mampu dan tidak desak-desakan, seseorang yang berthawaf
menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca “
Allahu akbar” atau “
Bismillah Allahu akbar”
lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak
memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu
mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk
mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan,
namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada
setiap putaran thawaf.
Ketika mengililingi Ka’bah, hendaklah tidak
desak-desakan dan tidak menyakiti yang lain dengan saling
dorong-dorongan, juga tidak perlu berdzikir dengan mengeraskan suara.
Jika
sampai pada rukun Yamani, bila mampu, hendaklah mengusapnya dengan
tangannya. Tidak perlu mencium dan tidak perlu mengusap-ngusapnya
seperti kelakuan orang awam. Seperti itu menyelisihi tuntunan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak mampu mengusapnya, maka hanya melewatinya saja tanpa memberi isyarat, tanpa pula bertakbir.
Disunnahkan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad untuk membaca do’a,
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Robbanaa
aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban
naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di
akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab neraka).
Disunnahkan melakukan
roml.
Roml yaitu berjalan cepat dengan memperpendek langkah, sehingga pundak dalam keadaan bergetar dan tidak sampai melompat.
Roml ini dilakukan ketika thowaf pada tiga putaran pertama. Sedangkan sisanya berjalan seperti biasa.
Thawaf tadi disempurnakan hingga tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir pada Hajar Aswad.
Kesalahan Saat Thawaf
1-
Melakukan sebagian thawaf di dalam Hijr Ismail karena berkeyakinan
sahnya berthawaf di dalam Ka’bah. Padahal Hijr adalah bagian dari Ka’bah
sehingga kita harus melakukan thawaf di luarnya.
2- Mengusap
seluruh pojok Ka’bah, kadang ada pula yang mengusap dinding dan penutup
Ka’bah, begitu pula dengan pintu Ka’bah dan Maqom Ibrahim. Semua ini
tidak boleh karena tidak ada tuntunan dan tidak pernah dilakukan oleh
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3- Saling desak-desakan antara laki-laki dan perempuan saat melalukan thawaf, terutama di Hajar Aswad dan Maqom Ibrahim.
Setelah Melakukan Thawaf Umrah
1-
Menutup pundak kanan yang sebelumnya terbuka karena melakukan shalat
sunnah idhtiba’ saat thawaf. Setelah itu pundak kembali tertutup.
2-
Mengerjakan shalat dua raka’at di belakang Maqom Ibrahim jika mudah.
Namun jika menyulitkan, maka shalatlah di tempat mana saja selama di
Masjidil Haram. Shalat ini termasuk shalat sunnah muakkad (yang amat
ditekankan).
3- Pada saat mengerjakan shalat sunnah tersebut,
raka’at pertema setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al Kafirun.
Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah membaca surat Al
Ikhlas. Jika membaca surat lainnya, masih dibolehkan.
Setelah mengerjakan thawaf tersebut, lalu menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i.
Insya Allah akan berlanjut pada serial terakhir,
bi idznillah. Hanya Allah yang memberi taufik.
Sumber : http://rumaysho.com/haji-umrah/panduan-umrah-ringkas-1-5524