-->
w
| Tentang | Ketentuan| Privacy & Policy | Disclaimer | | Alamat : Jalan Desa Harapan Sudirman No. 71A Duri Riau 28884 |
| ☎ Call / Chat Wa : 0853 6582 0822 | ✉ Email :admin@duririau.com |

Kami menjual Rumah Siap Huni, Kaplingan Strategis, juga menerima Borongan Bangunan




Harga Promo Khusus Member, Ayo bergabung, S & K Berlaku



Popular Post

Tampilkan postingan dengan label PEMIMPIN BUSUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEMIMPIN BUSUK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

MANUSIA TIDAK ADA YANG SEMPURNA : KEFATALAN SALAFY, FAHAM TAAT PADA PEMERINTAH YANG ZALIM

Copy Paste dari :

Bagaimana Kezaliman Saudi ?
Kesalahan dalam Wala' dan Bara' pada Muslim dan Musuh Islam dan tidak adil dalam Hukum
( kekebalan Hukum pada pihak kerabat Kerajaan dll )
 
Re: TUDUHAN SALAFY ANTEK & BUDAK PENGUASA : Mengapa Ahlus Sunnah anti-demokrasi namun tetap menaati pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi?

Kelihatannya di sini Salafi mengikuti pemimpin yang zholim meski tega membantai
ribuan/puluhan ribu rakyatnya asalkan sang pemimpin tetap shalat. Apakah itu
ajaran Islam?

Lihat pidato Khalifah Umar ra bagaimana dia minta ditegur jika salah. Saat
seorang sahabat menjawab bahwa dia akan meluruskan Umar ra dengan pedangnya
(membunuhnya), Khalifah Umar justru memberi selamat. Para sahabat yang lain pun
diam saja tidak mencela orang tsb.

Itulah dalam Islam. Menegur pemimpin, bahkan melengserkannya jika salah itu
tidak masalah. Imam Shalat saja saat Shalat jika kentut, maka tidak layak lagi
jadi Imam Shalat. Harus diganti. Demikian pula pemimpin negara. Silahkan baca:

Pidato beliau ketika itu. "Saya telah diberi kekuasaan (tauliyah) atas kalian,"
kata Abu Bakar, "Padahal saya bukan yang terbaik di antara kalian. Apabila saya
benar, dukunglah kepemimpinan saya. Tapi bila salah atau menyimpang, luruskanlah
saya. Taatilah sepanjang saya mentaati Allah dalam memimpin kalian. Tapi bila
saya berbuat ma'shiyat, maka kalian wajib tidak mentaatinya."

Sahabat Umar bin Khattab pernah mengatakan, "Siapa di antara kalian melihat
adanya penyimpangan pada diri saya, hendaklah ia meluruskannya." Salah seorang
yang mendengar ucapan beliau langsung menanggapi seraya mengatakan, "Kalau saya
melihat ada penyimpangan pada dirimu, maka saya akan meluruskannya dengan
pedangku." Kontan ketika mendengar tanggapan ini, Khalifah Umar berujar,
"Alhamdulillah bila di antara umat Muhammad ada yang mau meluruskan penympangan
Umar dengan pedangnya."
http://pcinu-mesir.tripod.com/ilmiah/pusaka/ispustaka/buku07/024.htm
http://www.elitha-eri.net/2007/06/19/pasti-aku-meluruskannya-dengan-pedangku-ini\
/


Kalau selama shalat tidak boleh didemo atau diturunkan, maka seorang pemimpin
bisa berbuat sewenang-wenang. Dia bisa membantai jutaan rakyatnya dengan tenang.
Kan dia sudah shalat. Pemimpin tsb bisa korupsi ribuan trilyun. Kan dia sudah
shalat.

Maaf, paham seperti itu bertentangan dengan sunnah di atas.

Barangsiapa mengangkat senjata terhadap kami tidaklah dia dari golongan kami dan
barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami. (HR. Bukhari)

Pemimpin yang membantai ummat Islam, maka dia bukanlah tergolong seorang Muslim.
Demikian pula pemimpin yang menipu rakyatnya.

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah
bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Dalam Surat Al Ma'uun disebut bahwa orang yang shalat, tapi enggan menolong
fakir miskin/rakyatnya sebagai pendusta agama dan celaka:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Itulah orang yang menghardik anak yatim,

dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat,

(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,

orang-orang yang berbuat ria.

dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Ajaran Islam itu luas. Bukan cuma shalat. Jika shalat seperti Mirza Ghulam
Ahmad, tapi menyimpang dan mengaku sebagai Nabi, apa perlu ditaati:

"Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati
pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari
jalan (yang benar)." [Al Ahzab 68]

Nabi Ibrahim memberontak terhadap Raja Namrudz. Nabi Musa berontak terhadap
Fir'aun. Nabi Muhammad juga memberontak terhadap pimpinan Mekah Abu Sofyan.
Bahkan terhadap pimpinan Yatsrib, Abdullah bin Ubay yang masuk Islam dan shalat
pun sehingga mendirikan masjid ummat Islam tidak wajib taat padanya saat dia
menyimpang dari jalan yang lurus.

"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid
untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan
untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan
orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka
Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah
menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya
mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah
lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang
ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bersih." [At Taubah 107-108]

Lihat meski membangun Masjid dan Shalat, tapi jika zhalim tidak wajib didukung.

Hendaklah kamu beramar ma'ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar
(melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu
orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang
baik-baik di antara kamu berdo'a dan tidak dikabulkan (do'a mereka). (HR. Abu
Zar)

Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma'ruf dan cegahlah dari yang
mungkar sebelum kamu berdo'a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum
kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma'ruf tidak mendekatkan ajal.
Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar
ma'ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka.
Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka. (HR. Ath-Thabrani)

Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tangannya.
Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu
juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah. (HR.
Muslim)

Lihat ajaran Islam itu mengajarkan kita untuk amar ma'ruf nahi munkar (menyuruh
kebaikan dan mencegah kejahatan). Perintah itu bukan cuma untuk penguasa. Tapi
juga individu. Jika ada seseorang mau membunuh anak kita misalnya. Ya kita wajib
mencegahnya dengan segala daya. Bukan menunggu pemerintah untuk mencegahnya
karena itu terlambat.

Luqman juga menyuruh anaknya untuk menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah
perbuatan mungkar dan bersabar terhadap resiko yang mungkin dihadapi karena itu.

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan
cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah)." [Luqman 17]

http://media-islam.or.id/2009/10/19/amar-ma%E2%80%99ruf-nahi-munkar-memerintahka\
n-kebaikan-dan-mencegah-kemungkaran/

--- In syiar-islam@yahoogroups.com, Dedy Iskandar <dysar06@...> wrote:
>
> Tuntunan Islam dalam Menasihati Penguasa (Sebuah
> Renungan bagi Para Pencela Pemerintah)
>
>
>
> Telah dimaklumi
> bersama bahwa merubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban
> setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi
> -shallallahu’alaihi wa sallam-:
>
> 
>
>Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran,
> hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan
> lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah
selemah-lemahnya
> iman.(HR. Muslim, no. 186)
>
> Â
>
> Akan tetapi, masih
> banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa untuk merubah kemungkaran yang
> dilakukan oleh pemerintah muslim tidak sama dengan merubah kemungkaran yang
> dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan
> penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian
media
> massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula
> para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai”
yang menurut
> mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi
> korban.
>
> Â
>
> Namun yang
> sangat mengherankan, ada sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah, pengikut
> sunnah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- pun turut serta melakukan
> demonstrasi (yang mereka namakan dengan aksi damai) dan mengkritik pemerintah
> muslim secara terang-terangan di media massa. Maka seperti apakah bimbingan
> Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- dan para ulama Ahlus Sunnah wal
> Jama’ah dalam masalah ini?
>
> Â
>
> Rasulullah
> -shallallahu’alaihi wa sallam- yang ma’shum, yang tidak berkata kecuali
wahyu
> yang diwahyukan kepadanya. Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali
> perkataan beliau -shallallahu’alaihi waÂ
> sallam-, beliau bersabda:
>
> Â
>
> “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia
> menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang
> penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang
> diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban
> (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh
bin
> Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadits ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
> â€"rahimahullah- dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]
>
> Â
>
> Demikianlah
> bimbingan Nabi yang mulia teladan kita â€"shallallahu’alaihi wa sallam-
dalam menasihati
> penguasa. Lalu seperti apakah pemahaman dan pengamalan terhadap hadits di atas
> oleh para pengikut sunnah yang sejati, yakni para sahabat dan ulama Ahlus
> Sunnah wal Jama’ah?
>
> Â
>
> Al-Imam
> Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim -rahimahumallah- dalam Shahih keduanya
> meriwayatkan:
>
> Â
>
> “Dikatakan kepada Usamah (bin Zaid) radhiyallahu’anhuma, “Kalau
> sekiranya engkau mendatangi si fulan (dalam riwayat Al-Imam Muslim, si fulan
> yang dimaksud adalah: Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu) lalu engkau
> menasihatinya?” Usamah menjawab, “Sesungguhnya kalian benar-benar mengira
bahwa
> aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian?!
> Sungguh aku telah menasihatinya secara diam-diam, tanpa aku membuka sebuah
> pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.”
[HR.
> Al-Bukhari, (no. 3267, 7098) dan Muslim, (no. 7408) dari Abu Wa’il
> radhiyallahu’anhu]
>
> Â
>
> Al-Hafizh Ibnu
> Hajar â€"rahimahullah- menjelaskan maksud perkataan Usamah bin Zaid
> -radhiyallahu’anhuma-, “Sungguh aku telah berbicara (menasihati) beliau
tanpa
> aku membuka sebuah pintu“, maknanya adalah: “Aku telah menasihatinya dalam
> perkara yang kalian isyaratkan tersebut, tetapi dengan memperhatikan maslahat
> dan adab (dalam menasihati penguasa), yakni secara rahasia, sehingga tidak
terjadi
> pada perkataan (nasihatku) ini sesuatu yang bisa mengobarkan fitnah.” [Lihat
> Fathul Bari, (13/51)]
>
> Â
>
> Al-Hafizh Ibnu
> Hajar -rahimahullah- juga menukil penjelasan sebagian ulama tentang
kemungkaran
> yang diisyaratkan kepada Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma- ternyata
> bukanlah kemungkaran yang tersembunyi dari masyarakat, tetapi kemungkaran yang
> zhahir dan telah tersebar beritanya di tengah-tengah masyarakat, yaitu tentang
> salah seorang pejabat Utsman bin Affan -radhiyallahu’anhu- yang bernama
> Al-Walid bin ‘Uqbah yang tercium dari mulutnya bau nabidz (sejenis khamar),
> kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar â€"rahimahullah- berkata dalam menjelaskan
> perkataan Usamah,
>
> Â
>
> “Sungguh aku
> telah menasihatinya secara rahasia (tidak terang-terangan), tanpa aku membuka
> sebuah pintu”, makna (pintu) yang dimaksud adalah: “Pintu pengingkaran
atas
> kemungkaran para penguasa secara terang-terangan, karena khawatir akan memecah
> belah kalimat (yakni persatuan kaum muslimin di bawah seorang pemimpin)”,
> kemudian beliau (Usamah) memberitahu mereka bahwa ia tidak sedikitpun mencari
> muka pada seseorang meskipun pada seorang pemimpin, akan tetapi ia telah
> mengerahkan segenap kemampuannya untuk menasihati pemimpin secara rahasia
> (tidak terang-terangan)”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]
>
> Â
>
> Al-Qodhi ‘Iyadh
> â€"rahimahullah- berkata, “Maksud Usamah, bahwa ia tidak ingin membuka pintu
> (memberi contoh) cara mengingkari penguasa dengan terang-terangan, karena ia
> khawatir dampak buruk dari cara tersebut. Akan tetapi yang beliau lakukan
> adalah dengan lemah lembut dan menasihati secara rahasia, karena cara tersebut
> lebih dapat diterima”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]
>
> Â
>
> Al-‘Allamah
> Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi â€"rahimahullah- juga menjelaskan perkataan
Usamah
> bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-, “Sungguh aku telah menasihatinya secara
> rahasia“, maknanya, “Aku menasehati penguasa secara diam-diam, sehingga
aku
> tidak membuka sebuah pintu dari pintu-pintu fitnah. Kesimpulannya, aku
(Usamah)
> menasihatinya demi meraih kemaslahatan bukan untuk memprovokasi munculnya
> fitnah (masalah), karena cara mengingkari para penguasa dengan terang-terangan
> terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya. Sebab pada cara tersebut
> terdapat pencemaran nama baik para pemimpin yang mengantarkan kepada
> terpecahnya kalimat (persatuan kaum muslimin) dan tercerai-berainya
jama’ah”.
> [Lihat Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, (23/33)]
>
> Â
>
> Al-Imam
> An-Nawawi â€"rahimahullah- dalam menerangkan perkataan Usamah pada riwayat
> Muslim, beliau berkata: “Aku membuka perkara yang aku tidak suka jika akulah
> yang pertama membukanya (yakni mencontohkan keburukan),” maknanya adalah,
> “Terang-terangan dalam menasihati penguasa di depan khalayak, sebagaimana
> pernah terjadi pada para pembunuh ‘Utsman -radhiyallahu’anhu-. Dalam
hadits ini
> terdapat adab bersama penguasa, lemah lembut terhadap mereka, menasihati
mereka
> secara rahasia dan menyampaikan perkataan manusia tentang mereka agar mereka
> berhenti dari kemungkaran tersebut. Ini semua dilakukan jika memungkinkan,
> namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran
> penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya
terang-terangan,
> agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.” [Lihat Syarah Muslim,
(18/118)]
>
> Â
>
> Peringatan:
> Perkataan Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- pada bagian akhir yang kami
> garisbawahi di atas maksudnya adalah jika keadaan memaksa untuk itu (bukan
pada
> semua keadaan) karena hal tersebut bukanlah kebiasaan para sahabat,
sebagaimana
> perbuatan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- yang dijadikan
dalil
> oleh hizbiyun untuk membolehkan menasihati pemerintah secara terang-terangan,
> yang insya Allah akan kami jawab dalam penjelasan syubhat dan bantahannya.
>
> Â
>
> Al-Imam
> Al-Qurthubi -rahimahullah- menerangkan perkataan Usamah dalam riwayat Muslim:
> “Sungguh aku telah menasihatinya secara empat mata”, maksudnya adalah,
“Ia
> (Usamah) telah menasihati Utsman -radhiyallahu’anhu- secara langsung dengan
> perkataan yang lembut, karena yang demikian itu lebih hati-hati untuk
> menghindari cara terang-terangan dalam mengingkari penguasa dan menghindari
> sikap penentangan terhadap penguasa, sebab cara menasihati penguasa dengan
> terang-terangan sangat berpotensi melahirkan berbagai macam fitnah dan
> kerusakan.” [Lihat Al-Mufhim Syarah Shohih Muslim, (6/619)]
>
> Â
>
> Al-Imam
> Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata, “Sepatutnya bagi orang yang mengetahui
> kesalahan penguasa dalam sebagian masalah agar ia menasihati penguasa
tersebut,
> dan janganlah ia menampakan celaan kepada penguasa di depan publik. Akan
tetapi
> sebagaimana terdapat dalam hadits (yakni hadits ‘Iyadh bin Ganm
> -radhiyallahu’anhu-), hendaklah ia meraih tangan sang penguasa dan menyepi
> dengannya, lalu menasihatinya, dan janganlah ia menghinakan sultan (penguasa)
> Allah”.[Lihat As-Sail Al-Jarrar, (4/556)]
>
> Â
>
> Asy-Syaikh
> Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di â€"rahimahullah- berkata,
“Bagi siapa
> yang melihat suatu kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, hendaklah ia
> memperingatkan mereka secara rahasia, tidak terang-terangan di khalayak,
dengan
> cara yang lembut dan perkataan yang sesuai dengan keadaan.” [Lihat Ar-Riyadh
> An-Nadhirah, (hal. 50)]
>
> Â
>
> Asy-Syaikh
> Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz â€"rahimahullah- berkata,
“Bukan
> termasuk manhaj salaf, membeberkan aib-aib penguasa, dan menyebutkannya di
atas
> mimbar-mimbar, karena hal itu akan mengantarkan kepada ketidakstabilan
> (negara), sehingga masyarakat tidak mau dengar dan taat kepada pemerintah
dalam
> perkara ma’ruf, dan mengantarkan kepada pemberontakan yang merusak dan tidak
> bermanfaat. Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah menasehati secara empat
> mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang memiliki akses langsung kepada
> penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan”. [Lihat
Haqqur
> Ro’iy war-Ro’iyyah, (hal. 27)]
>
> Â
>
> Faqihuz Zaman
> Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin â€"rahimahullah- berkata,
> “Mempublikasikan nasihat yang kita sampaikan kepada pemerintah terdapat dua
> mafsadat (kerusakan). Pertama: Hendaklah setiap orang khawatir, jangan sampai
> dirinya tertimpa riya’, sehingga terhapus amalannya. Kedua: Jika pemerintah
> tidak menerima nasihat tersebut, maka jadilah itu sebagai alasan bagi
> masyarakat awam untuk menentang pemerintah. Pada akhirnya mereka melakukan
> revolusi (pemberontakan) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” [Dari
> kaset Asilah haula Lajnah Al-Huquq As-Syar’iyah, sebagaimana dalam Madarikun
> Nazhor, (hal. 211)]
>
> Â
>
> Dari penjelasan
> para ulama di atas, telah sangat jelas bahwa dalam menasihati penguasa tidak
> boleh dilakukan secara terang-terangan, baik melalui demonstrasi, berbicara di
> mimbar-mimbar terbuka, ataupun melalui kolom opini dan artikel yang disebarkan
> secara terbuka di media-media. Apabila hal tersebut dilakukan, maka akan
> melahirkan mafsadat-mafsadat yang besar diantaranya:
>
> Â
>
> • Memprovokasi
> masyarakat untuk memberontak kepada penguasa, terlebih jika nasihat tersebut
> tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan menceraiberaikan kesatuan
> kaum muslimin (lihat penjelasan Ibnu Hajar, Al-‘Aini dan Asy-Syaikh
> Al-‘Utsaimin â€"rahimahumullah-)
>
> Â
>
> • Cara mengingkari
> kemungkaran penguasa dengan terang-terangan terdapat semacam sikap penentangan
> terhadapnya (lihat penjelasan Al-Imam Al-‘Aini dan Al-Imam Al-Qurthubi
> â€"rahimahumallah-)
>
> Â
>
> • Pencemaran nama
> baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan
> masyarakat dan pemerintah muslim (lihat penjelasan Al-Imam Al-‘Aini
> â€"rahimahullah-)
>
> Â
>
> • Membuat
> masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal ma’ruf (lihat penjelasan
> Asy-Syaikh Bin Baz â€"rahimahullah-)
>
> Â
>
> • Menyebabkan
> permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya (lihat penjelasan Asy-Syaikh Shalih
> Al-Fauzan â€"hafizhahullah- dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99)
>
> Â
>
> • Menjadi sebab
> ditolaknya nasihat oleh penguasa (lihat penjelasan Al-Qodhi ‘Iyadh
> â€"rahimahullah-)
>
> Â
>
> • Menyebabkan
> tertumpahnya darah seorang muslim, sebagaimana yang terjadi pada para pembunuh
> Utsman -radhiyallahu’anhu- (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi
â€"rahimahullah-
> dan juga penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani -rahimahullah- dalam Mukhtashor
Shahih
> Muslim, hal. 335)
>
> Â
>
> • Menghinakan
> sulthan Allah (lihat penjelasan Al-Imam Asy-Syaukani â€"rahimahullah-)
>
> Â
>
> • Munculnya riya’
> dalam diri pelakunya (lihat penjelasan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin
-rahimahullah-)
>
> Â
>
> • Menyelisihi
> dalil dan jalan As-Salafus Shalih
>
> Â
>
> • Mengikuti jalan
> ahlul bid’ah (Khawarij)
>
> Â
>
> Â
>
> Renungan Bagi para Pencela Pemerintah
>
> Â
>
> Menasihati
> penguasa secara terang-terangan termasuk dalam kategori pemberontakan yang
> merupakan karakter Khawarij, yakni satu sekte sesat yang dikenal dengan sikap
> pemberontakannya kepada pemerintah muslim yang mereka anggap zalim dan tidak
> berhukum dengan hukum Allah. Maka janganlah sampai engkau tergolong dalam
> kelompok Khawarij -wahai pencela pemerintah- yang telah diperingatkan oleh
Nabi
> â€"shallallahu’alaihi wa sallam-:
>
> Â
>
> “Mereka adalah anjing-anjing neraka; seburuk-buruknya makhluk
> yang terbunuh di bawah kolong langit, sedang sebaik-baiknya makhluk yang
> terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” [HR. At-Tirmidzi, (no. 3000),
dari
> Abu Umamah Al-Bahili -radhiyallahu’anhu-, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani
dalam
> Al-Misykah, (no. 3554)]
>
> Â
>
> Asy-Syaikh Ahmad
> bin Umar Bazmul â€"hafizhahullah- berkata, “Nasihat kepada penguasa secara
> rahasia merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Manhaj Salaf yang
> diselisihi oleh ahlul ahwa’ wal bida’, seperti Khawarij.”
>
> Â
>
> Beliau
> (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul â€"hafizhahullah-) juga menjelaskan bahwa
> menyebarkan aib-aib penguasa merupakan bentuk pertolongan kepada Khawarij
dalam
> membunuh penguasa muslim, sehingga jelas bahwa pemberontakan itu tidak hanya
> dengan senjata, tapi juga dengan lisan.
>
> Â
>
> Beliau berkata:
> “Hal tersebut dilarang karena bisa mengantarkan kepada perbuatan menumpahkan
> darah dan pembunuhan, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam
> At-Tabaqot, dari Abdullah bin Ukaim al-Juhani, bahwa beliau berkata:
>
> Â
>
> “Aku tidak akan
> menolong pembunuhan seorang Khalifah selamanya setelah Utsman”, maka
dikatakan
> kepadanya, “Wahai Abu Ma’bad, apakah engkau telah membantu (Khawarij)
dalam
> membunuh Utsman?” Maka beliau berkata, “Sungguh aku menganggap perbuatan
> membicarakan keburukan-keburukan beliau sebagai bentuk pertolongan kepada
> (Khawarij) dalam membunuhnya”.
>
> Â
>
> Maka camkanlah
> baik-baik atsar ini, tatkala beliau menganggap pembicaraan tentang
> kejelekan-kejelekan penguasa termasuk perkara yang membantu pembunuhannya.”
>
> Â
>
> Kemudian beliau
> (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul hafizhahullah) memberikan komentar pada
> catatan kaki, “Atsar ini berfaedah pelajaran bahwa pemberontakan itu dapat
> terjadi dengan senjata (pedang), maupun dengan ucapan. Berbeda dengan pendapat
> (yang salah) bahwa pemberontakan itu tidak terjadi kecuali dengan senjata.
Maka
> camkanlah ini baik-baik dan ingatlah selalu.”
>
> Â
>
> Beliau juga
> menukil penegasan Asy-Syaikh Bin Baz â€"rahimahullah-, “Bukan termasuk
manhaj
> Salaf menelanjangi aib-aib penguasa dan membicarakannya di atas mimbar-mimbar,
> karena hal tersebut mengantarkan kepada kudeta dan ketidaktaatan masyarakat
> dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa. Lebih dari itu, mengantarkan kepada
> pemberontakan yang hanya membahayakan dan tidak bermanfaat.” [Lihat artikel
As-Sunnah
> fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, oleh
>
> Â
>
> Asy-Syaikh Ahmad
> bin Umar
>
> Bazmul
> â€"hafizhahullah-, softcopy dari www.sahab.net]
>
> Â
>
> Â
>
> Syubhat dan Bantahannya
>
> Â
>
> Keterangan
> berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penjelasan para ulama di atas
> sekaligus sebagai bantahan terhadap tuduhan hizbiyun bahwa:
>
> Ahlus Sunnah
> mendiamkan kemungkaran penguasa. Karena para ulama Ahlus Sunnah adalah budak
> penguasa yang kerjanya hanya mencari muka kepada penguasa
>
> Mengapa Ahlus
> Sunnah mengharamkan demokrasi namun tetap menaati pemimpin yang dihasilkan
dari
> pesta demokrasi!?
>
> Â
>
> Semua syubhat
> ini telah terjawab dalam keterangan di atas, yang ringkasnya:
>
> Â
>
> Pertama: Ahlus
> Sunnah tidak menasihati penguasa secara terang-terangan di depan khalayak
bukan
> berarti diam dengan kemungkaran penguasa, bukan pula karena mencari muka
kepada
> penguasa, tetapi karena mengikuti tuntunan Islam dalam menasihati penguasa.
>
> Â
>
> Kedua: Ahlus
> Sunnah tidak mengkafirkan secara serampangan terhadap pemerintah muslim yang
> terlibat dalam system kufur demokrasi atau yang tidak berhukum dengan
syari’at
> Islam, karena ada syarat-syarat pengkafiran yang harus terpenuhi dan
> terangkatnya penghalang-penghalang. Olehnya, Ahlus Sunnah tetap menaati
seorang
> pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi karena menganggapnya masih
> muslim.
>
> Â
>
> Masih ada
> beberapa syubhat yang sering dilontarkan oleh hizbiyun dan ingin kami jelaskan
> bantahannya â€"insya Allah- demi untuk menghilangkan kekaburan dalam masalah
ini:
>
> Â
>
> Syubhat pertama: Menasihati penguasa secara
> terang-terangan bukan termasuk pemberontakan dan bukan pula karakter Khawarij
>
> Â
>
> Dari penjelasan
> di atas, jelaslah kesalahan sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah, namun
> menganggap bahwa menasihati penguasa dengan membicarakan aib-aib penguasa
> secara terang-terangan bukan termasuk pemberontakan dan karakter Khawarij,
> sebagaimana yang dikatakan penulis buku Siapa Teroris? Siapa Khawarij?:
>
> Â
>
> “Lebih dari itu,
> sekedar melakukan demonstrasi saja sudah dianggap sebagai tindak pemberontakan
> dan dikatakan sebagai Khawarij dan teroris. Hal ini tercermin dalam perkataan
> beliau (Al-Ustadz Luqman Ba’abduh -pen), “Perlu ditekankan di sini, bahwa
> bentuk pemberontakan terhadap penguasa itu tidak hanya dalam bentuk gerakan
> fisik atau gerakan bersenjata saja”. Kemudian beliau (Al-Ustadz Luqman
Ba’abduh
> -pen) mengutip pendapat Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi di buku
Madarik
> An-Nazhar (tanpa penyebutan halaman) yang mengatakan, “Wal hasil, hanya
sekedar
> memprovokasi massa untuk menentang penguasa muslim (walaupun penguasa tersebut
> seorang fasik) sudah layak dicap sebagai cara-cara khawarij.” [Lihat Siapa
> Teroris? Siapa Khawarij?, (hal. 224)]
>
> Â
>
> Asy-Syaikh
> Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullah- menjawab syubhat ini, dalam
> menjelaskan hadits tentang tuduhan kaum Khawarij kepada Rasulullah
> -shallallahu’alaihi wa sallam- bahwa beliau belum berlaku adil dalam
pembagian
> ghanimah. Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
>
> Â
>
> “Ini merupakan
> dalil terbesar bahwa pemberontakan terhadap pemerintah bisa dengan senjata,
> ucapan dan komentar. Yakni, orang ini (Dzul Khuwaisirah) tidak mengangkat
> pedang melawan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, tetapi hanya
sekedar
> mengingkari beliau (dengan ucapan).
>
> Â
>
> Kami sangat
> memahami bahwa biasanya tidak akan terjadi pemberontakan dengan senjata,
> kecuali telah didahului oleh pemberontakan dengan kata-kata. Manusia tidaklah
> mungkin menyandang senjata mereka untuk memerangi penguasa tanpa ada sesuatu
> yang dapat memprovokasi mereka. Pasti ada sesuatu yang bisa memprovokasi
> mereka, itulah ucapan (provokator). Maka pemberontakan kepada penguasa dengan
> kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan sunnah dan
> kenyataan.” [Lihat Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, (hal. 96)]
>
> Â
>
> Penjelasan di
> atas mengingatkan kita kepada salah satu sekte Khawarij yang bernama
> Al-Qo’adiyah. Mereka ini tidak ikut mengangkat senjata melawan penguasa
dalam
> pemberontakan berdarah, tetapi kerjaan mereka hanyalah memprovokasi masyarakat
> untuk memberontak kepada penguasa dengan bait-bait syair maupun orasi-orasi di
> mimbar bebas.
>
> Â
>
> Al-Hafizh Ibnu
> Hajar rahimahullah berkata, “Al-Qa’adiyah memprovokasi pemberontakan
kepada
> para penguasa, meskipun mereka tidak terlibat langsung.” [Lihat Hadyus Sari,
> oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar â€"rahimahullah-, hal. 459, sebagaimana dalam Syarru
> Qatla tahta Adimis Sama’, hal. 20]
>
> Â
>
> Bahkan
> sebenarnya merekalah yang paling berbahaya dan paling dahsyat fitnahnya,
karena
> biasanya orang-orang yang bisa melakukan provokasi adalah yang memiliki
sedikit
> ilmu yang dengannya dia menipu manusia. Seakan ia juga “termasuk dalam
jajaran
> ulama terpandang”, sehingga disebutkan dalam satu atsar dari Abdullah bin
> Muhammad Adh-Dha’if â€"rahimahullah-, ia berkata: “Kelompok al-Qa’adiyah
ini
> merupakan pecahan khawarij yang paling jelek!” [Riwayat Abu Dawud dalam
> Masaa’il Al-Imam Ahmad, (hal. 271), sebagaimana dalam Syarru Qatla tahta
Adimis
> Sama’, (hal. 21)]
>
> Â
>
> Syubhat kedua: Boleh menasihati penguasa secara
> terang-terangan jika kemungkaran tersebut dilakukan secara terang-terangan,
> dengan dalil perbuatan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri â€"radhiyallahu’anhu-
dalam
> menasihati Marwan, walikota Madinah dan fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud
> â€"rahimahullah-
>
> Â
>
> Adapun
> pembolehan menasihati penguasa secara terang-terangan, jika penyimpangan
> penguasa dilakukan terang-terangan sebagaimana dalam kisah sahabat yang mulia
> Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- dan fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin
Qu’ud
> â€"rahimahullah-, beliau berkata dalam salah satu fatwa beliau, “Karenanya,
saya
> memandang jika perkara yang hendak disampaikan sebagai nasihat merupakan
> perkara zahir, jelas dan nampak dalam artian kemungkaran itu nampak dan jelas,
> maka tidak mengapa memberi nasehat kepada penguasa dengan cara berhadapan
> dengannya, atau melalui kolom opini di koran-koran (termasuk artikel), melalui
> mimbar-mimbar, atau dengan metode-metode lainnya jika kemungkaran tersebut
> jelas dan nampak di tengah-tengah manusia.”
>
> Â
>
> Syubhat ini kami
> jawab dari beberapa sisi:
>
> Â
>
> Pertama: Kalau
> fatwa ini benar dari beliau, maka beliau sendiri (dalam fatwa yang sama) telah
> memberikan batasan-batasan dan siapa yang berhak melakukannya, diantaranya:
>
> Â
>
> 1). Dengan
> memperhatikan maslahat dan mafsadat. Jika kita lihat mafsadat-mafsadat besar
> yang sangat mungkin ditimbulkan dari cara menasihati pemerintah dengan
> terang-terangan, tentunya hal tersebut tidak boleh untuk dilakukan.
>
> Â
>
> 2). Bukan semua
> orang yang boleh melakukannya, tetapi para ulama yang benar-benar memiliki
ilmu
> dalam masalah tersebut dan memiliki kedudukan dalam pandangan pemerintah dan
masyarakat.
> Hal ini jelas dari perkataan beliau dan pendalilan beliau dengan kisah Abu
> Sa’id al-Khudri -radhiyallahu’anhu-. Siapa Abu Sa’id Al-Khudri
> -radhiyallahu’anhu-, seorang ulama besar di kalangan sahabat dibandingkan
> dengan Marwan seorang Tabi’in[1]? Kedudukannya adalah guru (Sahabat) dan
murid
> (Tabi’in). Demikian pula, tidak semua Sahabat dan Tabi’in yang hadir pada
saat
> itu melakukan pengingkaran secara terang-terangan.
>
> Â
>
> Kedua: Kalau
> kita perhatikan apa yang dilakukan oleh sahabat Abu Sa’id Al-Khudri
> -radhiyallahu’anhu-, maka itu adalah perkara yang sangat mendesak dan sangat
> terkait dengan waktu yang singkat (yakni pelaksanaan shalat ‘ied) dan
terjadi
> di depan matanya dan di depan khalayak ramai, sehingga tidak mungkin untuk
> ditunda. Karena kaidah yang disepakati, “Menunda penjelasan dari waktu yang
> dibutuhkan tidak boleh”. Inilah maksud perkataan Al-Imam An-Nawawi
> â€"rahimahullah- yang kami garis bawahi di atas.
>
> Â
>
> Asy-Syaikh Ahmad
> bin Umar Bazmul â€"hafizhahullah- menjelaskan perkataan Al-Imam An-Nawawi
â€"rahimahullah-
> tersebut, “Perkataan beliau, “Ini semua dilakukan jika memungkinkan”,
yakni
> jika memungkinkan seseorang menasihati penguasa secara rahasia,  maka inilah
yang wajib atasnya, tidak yang
> lainnya (yakni tidak boleh terang-terangan).”
>
> Â
>
> “Adapun perkataan
> beliau (An-Nawawi), “Namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan
> mengingkari kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang
> melakukannya terang-terangan, agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.”
> Maknanya adalah, “Janganlah seseorang mengingkari kemungkaran penguasa
secara
> terang-terangan, kecuali dalam keadaan sangat genting (daruroh syadidah).”
>
> Â
>
> Kemudian beliau
> (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul â€"hafizhahullah-) berkata dalam catatan
> kakinya, “Atas dasar inilah (yakni dalam keadaan darurat) dibawa perbuatan
> Salaf (dalam mengingkari kemungkaran penguasa terang-terangan), seperti kisah
> Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- bersama Marwan, walikota Madinah
ketika
> ia mendahulukan khutbah atas shalat ‘ied.” [Lihat Shahih Al-Bukhari (2/449
no.
> 956 bersama Fathul Bari kitab Al-’Idain, bab Al-Khuruj ilal Musholla bi
ghayri
> Minbar]
>
> Â
>
> “Oleh karenanya,
> ketika ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu- mengingkari perbuatan Hisyam
> -radhiyallahu’anhu- (yaitu, dengan menyampaikan hadits di atas) karena
> pengingkaran Hisyam terhadap kemungkaran penguasa secara terang-terangan,
tanpa
> ada kebutuhan mendesak (darurat). Tidaklah yang dilakukan Hisyam
> -radhiyallahu’anhu-, kecuali tunduk (kepada hadits tersebut), wallahu
A’lam.”
> (Lihat As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, Asy-Syaikh Ahmad bin
> Umar Bazmul, softcopy dari www.sahab.net)
>
> Â
>
> Ketiga:
> Pengingkaran Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu benar-benar di depan
> penguasa tersebut, sehingga memungkinkan bagi sang penguasa untuk mengambil
> faedah “secara langsung” dari nasihat beliau, atau sebaliknya sang
penguasa
> bisa memberikan bantahan jika ia memiliki dalil atau pertimbangan khusus
> sebagai seorang pemimpin.
>
> Â
>
> Adapun jika
> dengan menyebarkan artikel-artikel di media massa dan berorasi di
mimbar-mimbar
> bebas yang tidak dihadiri oleh penguasa, maka belum tentu bisa dibaca atau
> didengarkan oleh penguasa (sebagai orang yang dinasihati), malah yang terjadi
> adalah ghibah atau buhtan, pencemaran nama baik dan provokasi untuk
memberontak
> kepada penguasa. Bagaimana bisa seseorang mengharamkan ghibah dan pencemaran
> nama baik dirinya dan para tokoh idolanya sementara untuk penguasa dia
> bolehkan…Ma lakum kayfa tahkumun?!
>
> Â
>
> Asy-Syaikh
> Al-‘Utsaimin â€"rahimahullah- menjelaskan, “Sesungguhnya mengingkari
kemungkaran
> yang tersebar adalah hal yang dituntut dan tidak ada masalah dalam hal ini.
> Tapi yang menjadi masalah dalam pembahasan kita adalah pengingkaran terhadap
> seorang penguasa, seperti jika seseorang berpidato di masjid, kemudian ia
> berkata misalnya, “Negara (pemerintahnya) ini telah berbuat zhalim”,
> “Pemerintah telah melakukan (kesalahan)”, ia terus berbicara tentang
> kemungkaran penguasa dengan cara terang-terangan ini, padahal para penguasa
> tersebut tidak hadir dalam majelis itu. Jelas berbeda jika pemimpin atau
> penguasa yang ingin engkau nasihati itu ada di hadapan Anda dan ketika dia
> tidak ada. Karena semua pengingkaran secara terang-terangan yang dilakukan
oleh
> generasi Salaf terjadi langsung di hadapan pemimpin atau penguasa. Bedanya,
> jika ia hadir, memungkinkan baginya untuk membela diri dan menjelaskan sisi
> pandangnya, dan bisa jadi ia yang benar dan kita yang salah. Akan tetapi jika
> ia tidak hadir, tentunya ia tidak bisa membela diri dan ini termasuk
> kezhaliman. Maka wajib bagi setiap kita untuk tidak berbicara tentang
kejelekan
> seorang penguasa tatkala ia tidak hadir. Olehnya, jika engkau sangat
> menginginkan kebaikan (bagi seorang penguasa) pergilah kepadanya, temuilah ia,
> lalu nasihati secara empat mata.” [Lihat Liqo’ Al-Babil Maftuh, pertemuan
> ke-62, hal. 46)
>
> Â
>
> Keempat: Jika
> fatwa Asy-Syaikh Ibnu Qu’ud â€"rahimahullah- diterima secara mutlak tanpa
ada
> batasan-batasan sebagaimana yang beliau jelaskan sendiri dan batasan-batasan
> lain yang dijelaskan oleh para ulama lainnya, maka hal tersebut sangat jelas
> bertentangan dengan dalil dan fatwa-fatwa para ulama lainnya sebagaimana yang
> kami nukil di atas. Oleh karena itu kami mengingatkan kepada saudara-saudara
> kami yang menasihati penguasa secara terang-terangan karena mengikuti fatwa
> Asy-Syaikh Ibnu Qu’ud â€"rahimahullah-. Ketahuilah â€"kami mencintai
kebaikan untuk
> kalian sebagaimana kami cintai kebaikan itu untuk diri kami-:
>
> Â
>
> Pertama:
> Kalaupun benar sebagaimana yang kalian katakan (bahwa ada khilaf dalam masalah
> ini), bukankah yang terbaik bagi kita untuk berhati-hati dengan memilih jalan
> yang lebih selamat?!
>
> Â
>
> Kedua: Jika kita
> mencari setiap keringanan para ulama, niscaya kita akan binasa, sebagaimana
> diriwayatkan dari sebagian Salaf, “Barangsiapa yang mencari-cari keringanan
> para ulama, maka dia telah mengarah kepada kemunafikan”.
>
> Â
>
> Ketiga: Tidakkah
> kalian memikirkan mafsadat yang besar â€"terutama bagi orang-orang awam- jika
> pintu ini dibuka?!
>
> Â
>
> Â
>
> Asy-Syaikh Ahmad
> bin Umar Bazmul â€"hafizhahullah- menerangkan, sedikitnya tiga kemungkaran
besar
> yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika seseorang menasihati
> penguasa secara terang-terangan, padahal masih memungkinkan untuk dinasihati
> secara rahasia,
>
> Â
>
> Pertama:
> Menyelisihi hadits ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu- yang memerintahkan
untuk
> diam-diam dalam menasihati penguasa.
>
> Â
>
> Kedua:
> Menyelisihi atsar-atsar dan manhaj Salaf, seperti atsar Usamah bin Zaid dan
> Abdullah bin Abi Aufa dan selainnya radhiyallahu’anhum.
>
> Â
>
> Ketiga:
> Menyelisihi hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang
> menghinakan penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinakannya.”
(HR.
> Al-Bukhari)
>
> (Lihat As-Sunnah
> fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul,
> softcopy dari www.sahab.net)
>
> Â
>
> Syubhat ketiga: Tidak mungkin menasihati penguasa
> seperti hadits ‘Iyadh bin Ganm maupun atsar Usamah bin Zaid
> -radhiyallahu’anhum- di zaman ini, dikarenakan aturan protokoler
pemerintahan
> modern terlalu berbelit-belit, sehingga tidak memungkinkan setiap orang bisa
> bertemu empat mata dengan seorang pejabat, maka terpaksa diambil jalan
> terakhir, yaitu dengan melakukan demonstrasi, tapi demo yang Islami atau aksi
> damai.
>
> Â
>
> Menjawab syubhat
> ini kami katakan:
>
> Â
>
> Pertama: Hadits
> ‘Iyadh bin Ganm dan atsar Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhum itu tidak
bermakna
> harus persis seperti teksnya, yaitu setiap orang yang ingin menasihati harus
> memegang tangan penguasa, menyepi dengannya atau bertemu empat mata dengannya.
> Masih ada cara lain yang dibolehkan, asalkan tidak terang-terangan, seperti
> penjelasan Asy-Syaikh Bin Baz â€"rahimahullah-, “Tapi metode yang
dicontohkan
> Salaf adalah: menasihati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para
> ulama yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa
bisa
> diarahkan kepada kebaikan.” (Haqqur Ro’iy war-Ro’iyyah, hal. 27)
>
> Â
>
> Kedua: Jika
> ternyata memang semua jalan yang disebutkan Asy-Syaikh Bin Baz
â€"rahimahullah-
> tidak bisa sama sekali atau penguasa tidak mau menuruti nasihat dan merubah
> kebijakannya yang zalim, apakah kemudian boleh melakukan demonstrasi atau
> menyebar artikel nasihat dan teguran kepada pemerintah di media massa?
>
> Jawabnya: Tetap
> tidak boleh, sebab hal tersebut bertentangan dengan dalil dan petunjuk Salaf
> dalam menghadapi keadaan semacam ini.
>
> Â
>
> Al-Imam Ibnu
> Abdil Barr â€"rahimahullah- berkata, “Jika tidak memungkinkan untuk
menasihati
> penguasa (dengan cara yang syar’i), maka solusi akhirnya adalah sabar dan
doa,
> karena dahulu mereka â€"yakni Sahabat- melarang dari mencaci penguasa”.
Kemudian
> beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-,
> beliau (Anas) berkata, “Dahulu para pembesar Sahabat Rasulullah
> -shallallahu’alaihi wa sallam- melarang dari mencaci para penguasa.”
[Lihat
> At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)]
>
> Â
>
> Al-Imam Al-Hasan
> Al-Bashri â€"rahimahullah- berkata, “Demi Allah, andaikan manusia bersabar
dengan
> musibah berupa kezhaliman penguasa, maka tidak akan lama Allah Ta’ala
> mengangkat kezhaliman tersebut dari mereka, namun apabila mereka mengangkat
> senjata melawan penguasa yang zhalim, maka mereka akan dibiarkan oleh Allah.
> Dan demi Allah, hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan kapan pun. Kemudian
> beliau membaca firman Allah:
>
> Â
>
> “Maka sempurnalah kalimat Allah (janji-Nya) kepada Bani Israel
> disebabkan kesabaran mereka dan Kami musnahkan apa yang diperbuat oleh
Fir’aun
> dan kaumnya dan apa yang mereka bina.” (Al-A’rof: 137).” [Lihat
Madarikun
> Nazhor, (hal. 6)]
>
> Â
>
> Penjelasan para
> ulama di atas dipahami dari banyak hadits Rasulullah -shallallahu’alaihi wa
> sallam-, diantaranya sabda beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-:
>
> Â
>
> “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai
> (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar,
> karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah
(pemerintah)
> kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan
> Muslim dari Abdullah bin Abbas -radhiyallahu’anhuma-)
>
> Â
>
> Juga sabda Nabi
> -shallallahu’alaihi wa sallam-:
>
> Â
>
> “Sesungguhnya kelak kalian akan melihat (pada pemimpin kalian)
> kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya,
> “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab:
> “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian
(berdoa).”
> (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-)
>
> Â
>
> Dan sabda Nabi
> -shallallahu’alaihi wa sallam-:
>
> Â
>
> “Kami bertanya, wahai Rasulullah, “Apa pendapatmu jika para
> pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta
hak
> mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-
bersabda,
> “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka
> adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR.
Muslim
> dari Wail bin Hujr -radhiyallahu’anhu-)
>
> Â
>
> Maka jelaslah,
> ketika sudah tidak ada lagi solusi lain untuk merubah kemungkaran penguasa,
> tidak dibenarkan sama sekali melakukan demonstrasi, meskipun berupa aksi damai
> dan tidak pula dengan menyebar artikel dan berbicara tentang kejelekan
penguasa
> di khalayak ramai, karena semua itu bertentangan dengan tuntunan Allah
Ta’ala
> yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, tidak ada dalam
> Islam istilah demonstrasi Islami. Adapun yang dituntunkan oleh teladan kita,
> Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- dan para sahabat -radhiyallahu’anhum-
> adalah sabar dan doa.
>
> Â
>
> Inilah
> sebaik-baiknya solusi bagi orang-orang yang beriman kepada ayat Allah Ta’ala
> dan sunnah Rasul-Nya -shallallahu’alaihi wa sallam-.
>
> Â
>
> Wallahu A’la wa
> A’lam wa Huwal Muwaffiq.
>
> Â
>
> (Artikel ini
> dialihtuliskan untuk umum dari artikel khusus kami di www.almakassari.com)
>
> Â
>
> [1] Meskipun
> Marwan lahir dua atau empat tahun setelah hijrahnya Nabi -shallallahu’alaihi
wa
> sallam- ke Madinah, namun ia tidak pernah melihat Nabi -shallallahu’alaihi
wa
> sallam-. Demikian pendapat Al-Imam Al-Bukhari â€"rahimahullah- [Lihat
At-Tahdzib,
> (10/82/no. 167) dan At-Taqrib, (no. 6567)]
>
> Â
>
> Sumber:
http://kaahil.wordpress.com/2010/07/17/tuduhan-salafy-antek-budak-penguasa-menga\
pa-ahlus-sunnah-anti-demokrasi-namun-tetap-menaati-pemimpin-yang-dihasilkan-dari\
-pesta-demokrasi/

>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



Rabu, 09 Maret 2011

1001 KESESATAN AHMADIYAH

Dalam sebuah milis ( Thu Jun 22, 2006 8:34 am )
seorang yang mengaku bernama H.Nadri Saaduddin,
Warga Payakumbuh Sumbar menulis tentang Ahmadiyah,
tidak diketahui apa maksud Milis tersebut ?
Pembelaan entah apa.. ???
karena isinya hanya berupa Paparan Buku si Nabi Palsu tsb !
Nabi dan Rasul punya MUKJIZAT,
yang tidak dimiliki si Manusia Sesat ini..
Sihir beda dengan Mukjizat,
Karena sampai zaman sekarang sihir tetap ada,
dan Sihir bersekutu dengan Iblis dan Syaithan..

Disini kelihatan " kebodohan " pengikut aliran ini kenapa ?
Kalau memang si Mirza Ghulam Ahmad tsb Imam Mahdi,
mana Nabi Isa as. yang diImaminya Shalat ?
Mana Dajjal yang ada tulisan " Kafir " dikeningnya dan
punya mata satu yang dibunuh Nabi Isa as tsb ?
Kok si Imam Mahdinya sudah mati ?
Padahal dalam Hadits Shahih dinyatakan bahwa
" Nabi Isa meninggal setelah 40tahun tinggal di Bumi,
dan telah membunuh Dajjal serta telah membunuh Babi, mematahkan salib,
memerangi semua Agama Syirik ( selain Islam )"
Buktinya malah sebaliknya Si Mirza Ghulam Ahmad Dajjalun Kazzabun Gila tsb
malah yang menjadi Kaki Tangan Inggris ( Penjajah Kafir ) dan dari Riwayat hidupnya
malah seolah-olah menjadi Pahlawan bagi semua Agama ???
Seterusnya DALAM TULISAN SI MIRZA STRESS tersebut
banyak hal SESAT yang mendakwa dirinya adalah Sosok 2 in 1
( kayak Shampoo nih.. sepertinya Iklan2 Shampoo yang meniru ya :-)
karena Mbah Mirza adanya di tahun 1800an )
Mirza mengaku sebagai Isa as sekaligus Imam Mahdi..
Betul2 tidak waras si Mirza Ghulam Ahmad ini terutama Pengikutnya...
Mengaku pula turunan Rasulullah SAW,
sama saja macam Darul Arqam Malaysia dimana Si Pemimpinnya mengaku sebagai Imam Mahdi dan sebagai turunan Rasulullah SAW.
Perlu dicatat bahwa Imam Mahdi adalah Turunan Quraisy dan bukan orang India macam si Mirza dan para Nabi Palsu yang banyak muncul sekarang ini.. 
Hebatnya Indonesia adalah banyak lahir disini Nabi Palsu dan negara Subur dengan Aliran sesat..

JIKA ADA PEMBACA POSTINGAN INI YANG TIDAK SENANG DENGAN POSTINGAN INI SILAHKAN HUBUNGI REDAKSI, ADA 1001 DALIL KESESATAN AHMADIYAH BERIKUT BANYAK VIDEO CERAMAH PARA ULAMA TENTANG SESATNYA ALIRAN CIPTAAN
" KAFIR INGGRIS " PADA ZAMAN KOLONIALISME INI..  

Akhirnya Redaksi dapatkan bahwa H.Nadri Saaduddin betul2 adalah Pentolan Ahmadiyah,
Bahkan di beberapa Web Redaksi dapatkan bahwa Pihak luar Islam sangat senang dengan Tulisan dan Postingan Orang Ahmadiyah yang bisa Pergi Haji ini ( padahal Saudi telah larang ! )
Berikut data yang didapat Redaksi :

http://z7.invisionfree.com/AHMADIYAH/index.php?showtopic=15 ( Tulisan, Rangkuman Mail )

http://www.alislam.org/ ( Website Ahmadiyah )

http://www.mail-archive.com/syiar-islam@yahoogroups.com/msg03952.html ( Mail )

http://www.mail-archive.com/proletar@yahoogroups.com/msg22600.html ( Mail )

http://id.wikipedia.org/wiki/Maulana_Rahmat_Ali ( Sejarah Tokoh Ahmadiyah )

http://www.opensubscriber.com/message/mediacare@yahoogroups.com/4912584.html ( Mail )

http://ahmadiyya.org/ ( Website Ahmadiyah )

Berikut isi postingan " H.Nadri Saaduddin " tsb :

Pengakuan Pendiri Jema'at Ahmadiyah dalam perkataannya sendiri

Dalam sebuah bukunya FATHI ISLAM (Kemenangan Islam), mungkin inilah bukunya yang pertama kali dimana Mirza Ghulam Ahmad membentangkan pengakuannya secara terperinci sebagaimana dijelaskan oleh kutipan berikut ini:

" Aku diutus dengan cara yang serupa dengan cara orang dari Tuhan itu (yakni Isa) diutus sesudah perkataan Tuhan (yakni Musa) dalam masa pemerintahan Herodias. Maka ketika "perkataan Tuhan" yang kedua , yang sebenarnya adalah yang terutama dan penghulu dari nabi-nabi (yakni Muhammad SAW) muncul untuk menghancurkan Firaun-firaun kedua, yang tentang dirinya telah ditulis :

" Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul , seorang saksi terhadapmu, sebagaimana kami telah kirimkan kepada Firaun" (73:15), baginya
(Muhammad SAW) juga yang merupakan padanan Musa dalam kebanyakan kegiatannya, tetapi lebih tinggi dalam martabat dan kemuliaan, telah dibuat sebuah janji mengenai padanan Al-Masih, yang akan mewarisi sifat-sifat , tanda-tanda dan ciri-ciri Putera Maryam yang datang pada abad yang sama dan sesudah jangka waktu yang sama dengan yang yang sudah berlalu diantara pemunculan "perkataan Tuhan" yang pertama ( yakni Musa ) dan pemunculan Al-Masih putera Maryam , yakni dalam abad keempat belas. Dan turun itu hanya secara rohani , persis seperti orang-orang sempurna sesudah kenaikan mereka turun untuk perbaikan manusia. Dan padanan Al-Masih itu (yakni Penulis ini ...maksudnya Mirza Ghulam Ahmad) telah turun kebumi dalam abad yang dalam segala hal menyerupai abad diwaktu mana Al-Masih Putera Maryam telah turun, sehingga hal itu dapat menjadi tanda bagi orang-orang yang mempunyai pengertian".(Triumph of Islam ,Guardian Press, Madras, 1923 hal. 15-17).

Kemudian Mirza Ghulam Ahmad memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai bagian terakhir dari perkataan diatas:

“ Karena Nabi Muhammad SAW telah menubuwatkan bahwa kepada pengikut-pengikutnya ‘akan datang masa yang serupa benar dalam segala hal dengan masa kaum Yahudi, dan bahwa mereka akan melakukan segala-galanya yang telah dilakukan orang-orang Yahudi dalam masa mereka, demikian halnya sehingga kalau orang-orang Yahudi telah masuk kedalam lobang biawak, pengikut-pengikutnya (..maksudnya umat Nabi Muhammad SAW) juga akan masuk kedalam lobang itu. Maka dalam masa itu akan lahir dari garis keturunan Persia seorang guru agama , dan sekiranya iman telah terbang ke bintang Suraya , ia akan mengambilnya ‘. Ini adalah nubuwatan Nabi Muhammad SAW yang kebenarannya telah dinyatakan kepada hamba yang lemah ini dengan perantaraan wahyu....”.

Mengenai perkataan “nuzul” (turun) yang sering digunakan berbagai hadits dalam hubungan dengan kedatangan Al-Masih, Mirza Ghulam Ahmad menulis yang berikut ini dalam pengantar dari bukunya “ Khutbah Ilhamiyah “ (khotbah yang diilhamkan) yang diberikannya dalam rangka Idul Adha pada tahun 1900... (khutbah ini tidak dipersiapkan dan sebagaimana katanya...atas perintah Tuhan dalam bahasa Arab.....ketika diucapkan , dicatat oleh beberapa pengikutnya):

"Hendaklah kamu ketahui bahwa perkataan "nuzul" dipilih untuk Masih Mau'ud karena dua alasan:

1. untuk membuktikan bahwa alat-alat pendekatan duniawi sudah terputus, yaitu pemerintahan, kepemimpinan dan penggunaan senjata dalam kerajaan dimana dia dibangkitkan oleh Tuhan Keesaan , supaya itu menjadi isyarat dari kenyataan bahwa Masih Mau’ud akan muncul hanya dalam satu kerajaan dimana Islam tidak punya kekuasaan dan kaum Muslim tidak punya kekutan, dan bersama-sama dengan ini mereka akan bangun menyangkalnya dan ingin hendak memadamkan cahaya dan rahmat Allah yang akan pembantu-pembantunya, sehingga Al-Masih akan dibantu hanya oleh Tuhan Dari Langit , dan tak ada restu baginya dari kerajaan-kerajaan bumi, penduduk dari negara, dan orang-orang yang berkuasa, dan bahwa ia tidak akan menggunakan pedang atau tombak , sehingga ia seolah-olah akan turun dari langit , dan Allah sendiri yang membantunya dan datang menolongnya.

2. untuk mempertunjukkan kemasyhuran Al-masih dalam waktu yang secepat-cepatnya disemua negeri, karena suatu barang yang turun dari langit terlihat oleh setiap orang - yang berada dekat atau jauh- dan dari sisi-sisinya (bumi) dan dari bagian -bagian tengahnya,dan ia kan dilihat seperti datangnya kilat dari suatu suatu sisi kesisi lainnya, sampai ia meliputi semua bagian sebagai suatu lingkaran” (Khutbah Ilhamiyah, Diyaul Islam, Qadian, 1319 H, catatan kaki).

Mengenai dasar pengakuannya Mirza Ghulam Ahmad berkata dalam suatu konteks yang lain:

“Sebagian orang menyangka bahwa nubuwatan tentang kedatangan Masih Mau’ud hanya terdapat dalam hadits-hadits dan tidak dalam Al-Qur’an , dan karena itu mereka menuntut bukti untuk itu dari Sabda Tuhan.... dalam Surah Tahrim (66:11) diisyaratkan bahwa beberapa orang dari kalangan Muslim (akan memperoleh martabat) ibnu Maryam, karena dalam surah itu mula-mula orang beriman diumpamakan Siti Maryam dan sesudah itu disebutkan peniupan ruh kedalamnya (yakni orang beriman seperti Siti Maryam). Ini menunjukkan bahwa orang beriman yang melaksanakan perintah-perintah Tuhan dengan sepenuhnya, dan membuat diri mereka seperti Siti Maryam , akan diberi ganjaran oleh Tuhan dengan dibuat menjadi Al-Masih.” (Dalam sebuah pidato diberikan di Lahore pada 3 September 1904, dikutip oleh Abdus Salam Madsen dari Islam and its Comparison with other Religions , Anjuman Tarraqi Islam, Sakkandarabad, cet 9, tanpa tahun , hal 137).

Dalam berapa kalangan terutama sekali di lingkungan musuh-musuh Jemaat Ahmadiyah, terdapat pendapat bahwa bahwa pengakuan-pengakuan Mirza Ghulam Ahmad adalah proses berangsur-angsur dari ulah yang bertambah-tambah (mula-mula mengaku mujaddid, lalu Al-Masih , kemudian Nabi dan lain-lainnya ; umpamanya lihat M.E. Burney: Qadiani Movement , Maki Publ. Durban , 1955, hal XV), tetapi dalam pernyataannya yang pertama mengenai pengakuannya dalam Barahin Ahmadiyah dalam tahun 1880 (yang disiarkan juga berupa pamflet khusus) kita membaca:

“ Pengarang ini telah menerima pemberitahuan dari Tuhan bahwa ia adalah mujaddid dari masa kita dan bahwa secara ruhani ia mempunyai kesamaan paling besar dengan Al-Masih Ibnu Maryam.” (Kutipan terjemahaan Barahin Ahmadiyah dari Mir Mas’ud Ahmad , bekas muballigh Ahmadiyah di Scandinavia).


Dalam buku Khutbah Ilhamiyah yang sudah disebutkan itu ia menulis:

"Tidakkah engkau lihat kedua gerakan yang bersamaan itu atau keputusasaan telah begitu menguasaimu sehingga kamu tidak melihat? Dan kamu mengatakan bahwa tak ada disebutkan Masih Mau'ud dalam Al- Qur'an , dan sesungguhnya Al-Qur'an banyak menyebutkannya, tetapi kamu tidak melihat .. Dan kedatanganku sebagai mata rantai terakhir dari penggantian Muhammad SAW, adalah hanya penyempurnaan persamaan ini" (dari rantai Musa dan Muhammad ). Cukup jelas bahwa adalah ayat Al-Qur'an; " Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kamu yang beriman dan berbuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah-khalifah dimuka bumi ini, sebagimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah sebelum kamu....."(24:55) yang melatar belakangi maksud terutama dari argumentasi diatas.

Mengenai Mahdi, Mirza Ghulam Ahmad menulis,

“ Sekiranya kamu menolak aku maka tolaklah hadits-hadits Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa Masih Mau’ud akan mempunyai persamaan jasmani dan ruhani yang demikian besar dengan tuannya sehingga ia akan dikenal dengan nama-nama yang dengannya dikenal Nabi Muhammad SAW, yakni ia akan dipanggilkan Muhammad dan Ahmad dan menjadi ahli bait beliau. (A Misunderstanding Removed, hal 14).

Pada suatu catatan kaki dari bagian tulisan ini ada tertulis: "Secara historis telah dibuktikan bahwa seorang leluhur dari aku adalah keturunan Syyid, keturunan Fatimah puteri Nabi Muhammmad SAW." (ibid).

Ketika orang-orang Muslim Mainstream ini membantah dengan mengatakan bahwa Al-Masih dan Mahdi adalah dua orang berlainan, mereka senantiasa ditangkis dengan hadits “Tiada Mahdi melainkan Isa” (Ibnu Majah).Juga ada dikemukakan bahwa Mahdi tidak disebut-sebut dalam Bukhari dan Muslim , yang dianggap membuktikan bahwa kedua sumber utama ini hanya menunggu satu orang .(lihat Muhammad Ali: Promised Messiah & Mahdi hal.32, Ahmadiyah Anjuman Ishaat Islam, Lahore, 1957).

Suatu perbedaan besar terdapat mengenai nubuwat Isa ibnu Maryam tentang seorang, yang namanya Ahmad. (Surat Ash Saff ayat 6).Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad berkata dalam bukunya "The Truth about the Split": " Aku berpendapat bahwa tujuan dari Nubuwat ini terutama sekali ialah Masih Mau'ud ... Tetapi Fazal Illahi Bashir dan umumnya orang-orang Ahmadi tidak mau beranjak dari pendirian mereka bahwa orang yang dinubuwatkan itu ialah Masih Mau'ud , Ahmad dan bukan nabi suci yang dikenal dengan Muhammad itu.

Demikian pula kita dapati tafsir kiasan (dan tampaknya secara ilmu bahasa mempunyai dasar) dari ungkapan-ungkapan lainnya dalam hadits yang dibicarakan . Kami kutip hadits yang paling terkenal mengenai kedatangan Al-Masih: “ Demi Dia yang jiwaku berada dalam tangan-Nya. Mungkin sekali bahwa putera Maryam akan turun ditengah-tengah kamu sebagai seorang penengah dan hakim (atau dalam versi lain: sebagai seorang imam diantara kamu) dan ia akan memecahkan salib dan membunuh babi dan meletakkan pedang.. ..... dst.” (Bukhari: Bakda al Khalq).

Buku-buku Ahmadiyah penuh dengan keterangan-keterangan bahwa “memecahkan salib” berarti membantah ajaran-ajaran Kristen yang salah, “membunuh babi” berarti membasmi tindakan-tindakan yang tidak bermoral dan “meletakkan pedang” menegakkan kebebasan beragama yang sempurna, dan lain-lain. Dalam perpustakan Ahmadiyah semuanya ini bisa dibaca untuk memperoleh penjelasan-penjelasan luas dan yang memberikan penerangan mengenai hal-hal ini.

*) H. Nadri Saaduddin Katanya
Pemerhati masalah sosial dan keagamaan domisili di Payakumbuh

Sumber = Situs Brengsek
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/forwarding-message-dari-milis-minangnet-t3255/

Senin, 07 Maret 2011

BENSIN = 25RIBU, NEGERI KAYA MINYAK LANGKA BENSIN


Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) terjadi di Pekanbaru Riau, wilayah yang kaya minyak di Indonesia. Kondisi ini membuat warga panik, berlomba mengisi tanki bahan bakar kendaraan mereka hingga penuh.

Antrean pun mengular. Pada pukul 02.35 WIB pagi Senin 7 Maret 2011, warga Pekanbaru masih antre BBM. Seperti di SPBU Jalan Ababil Pekanbaru, puluhan kendaraan roda empat masih antre.

Selain kendaraan roda empat, juga terlihat pengendara roda dua. "Nggak ada jaminan besok masih ada minyak,  mending antre sekarang," kata Syaiful, pengendara sepeda motor di sela-sela antre di SPBU Ababil Pekanbaru, Senin 7 Maret 2011.

Hal senada juga dikatakan Zamzalisman. Pemilik mobil Toyota Corona itu mengaku kesulitan memperoleh BBM premium. "Kemarin siang sempat antre di SPBU Arifin Ahmad, tapi nggak kebagian," ujarnya. Ia memilih datang malam-malam ke SPBU agar tak mengantre lama. "Ini pertama kali saya antre mengisi BBM pagi-pagi gini," katanya.

Di dekat SPBU tampak juga anggota polisi dari Polsek Sukajadi berjaga-jaga.  Sementara, jumlah BBM yang makin langka juga membuat harganya melejit. Pedagang eceran  menjual bensin Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Warga yang terdesak, tak punya pilihan. "Bagaimana lagi, daripada mendorong motor sepanjang hari, terpaksa juga beli Rp20 ribu perliter," kata Baharudin Minggu malam.

Apa yang terjadi di Riau? Sebelumnya, Sales Manager Pertamina Area Riau, Windrian Kurniawan kepada mengakui saat ini terjadi panic buying. "Kekosongan BBM di sejumlah SPBU disebabkan beberapa hari lalu terjadi keterlambatan pasokan stok BBM ke Depot Siak. Hal ini dikarenakan faktor teknis dan kapal yang sulit masuk," terangnya.

Ia membantah, keterlambatan pendistribusian BBM ini skenario dari Pertamina agar masyarakat membeli Pertamax dan Pertamax Plus. Pasalnya, hampir di seluruh SPBU yang menyediakan Pertamax Plus ready stok. Berbeda dengan premium dan solar yang memang langka. "Tak ada skenario seperti itu. Ini murni keterlambatan distribusi," kata dia.

Windrian memohon maaf kepada masyarakat Riau atas kejadian ini. "Saya minta maaf dan meminta agar masyarakat tak panik," ujarnya.

Senin, 28 Februari 2011

Revolusi Bubarkan Ahmadiyah

Selasa (01/3/2011) revolusi untuk membubarkan Ahmadiyah dimulai. Seluruh umat Islam diserukan untuk hadir dengan pakaian putih-putih dan bawa bekal menginap. Aksi longmarch akan digelar mulai pukul 13.00 WIB di Bunderan HI menuju Istana Negara. Jika Ahmadiyah tidak dibubarkan, maka massa akan menginap sampai tuntutan mereka dipenuhi. Bubarkan Ahmadiyah awal revolusi?
5 Ribu Orang Akan Turun Aksi  
Ahmadiyah harus dibubarkan karena menodai Islam dan mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Nabi palsu ini mengaku dirinya nabi dan imam mahdi yang lebih mulia daripada Allah.
Jika Ahmadiyah tidak dibubarkan, maka massa yang melakukan apel siaga pada hari Selasa (01/3/2011) akan menginap di depan Istana Merdeka untuk mendesak pembubaran Ahmadiyah.
"Ya, kita akan menginap. Tapi nanti kita lihat situasinya," kata Humas FUI Bernard Abdul Jabbar, Senin (28/2/2011).

"Tuntutan kita hanya satu, Ahmadiyah bubar. Nggak ada tuntutan lainnya. Jumlah massa yang turun sekitar 5 ribu orang. Kita akan turun ke lapangan besok," ujarnya.
Kenapa Ahmadiyah Harus Dibubarkan?
Selain itu, menjelang Apel Siaga Umat Islam untuk Pembubaran Ahmadiyah, Forum Umat Islam (FUI) mengeluarkan maklumat "Kenapa Ahmadiyah harus dibubarkan?" Dalam maklumat terbuka akhir Rabiul Awwal 1432H itu dibeberkan beberapa alasan krusial mengapa umat Islam menuntut pembubaran Ahmadiyah.
Dalam maklumatnya, FUI menyatakan bahwa kasus-kasus bentrokan jemaat Ahmadiyah dengan umat Islam yang marak belakangan ini terjadi karena Ahmadiyah dibiarkan menyebarkan kebohongan kepada umat Islam, yakni tentang kenabian Mirza Ghulam.  Contoh yang masih hangat adalah bentrokan Ahmadiyah di Kuningan, Bogor, dan Cikeusik-Pandeglang. Dalam kasus-kasus tersebut, pemerintah melakukan pembiaran bahkan melindungi kelompok Ahmadiyah dalam menyebarkan ajaran palsunya. Pembiaran dan agresivitas misi Ahmadiyah inilah yang selama ini menyebabkan terjadinya bentrokan antara kelompok  pengikut agama palsu Ahmadiyah dengan umat Islam yang marah akibat agamanya yang asli telah dipalsukan oleh kelompok agama palsu.
Bila tidak mau membubarkan Ahmadiyah, menurut FUI, berarti Presiden SBY tidak melaksanakan tugas dan melanggar sumpah jabatan, sehingga layak untuk dimakzulkan.
"Bila presiden tetap enggan membubarkan Ahmadiyah, berarti dia akan berhadapan dengan Allah dan Rasul-Nya, dan juga berarti dia tak melaksanakan UU No1/PNPS/1965. Artinya, Presiden SBY telah  melanggar sumpah jabatannya yang membuatnya layak dimakzulkan!" pungkas FUI.
Bubarkan Ahmadiyah Menjadi Awal Revolusi ?
Akankah terjadi revolusi di Indonesia jika Ahmadiyah tidak jadi dibubarkan? Direktur An Nashr Institute, Munarman, meyakini bahwa kasus Ahmadiyah bisa menjadi faktor pendorong terjadinya revolusi di Indonesia.
 "Faktor akidah ini akan menjadi magnitude terjadinya revolusi", ujar beliau dalam acara diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (PKSK) Ke-61 di Jakarta, Kamis (24/2/2011).
Hal senada disampaikan oleh Sekjen FUI, Al Khaththath pada kesempatan yang sama.
"Jika Ahmadiyah tidak dibubarkan, maka pada awal bulan Maret, umat Islam akan memulai proses revolusinya."
Pernyataan Munarman tersebut membantah pernyataan yang dilontarkan Anggota Fraksi Demokrat Ramadhan Pohan. Menurut Pohan, revolusi di Mesir tidak akan sampai ke Indonesia. Justru sebaliknya, revolusi (baca: reformasi) Indonesialah yang telah sampai Mesir.
Sementara itu, dari balik jeruji besi, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir mendesak pemerintah agar bersikap tegas membubarkan Jemaat Ahmadiyah, karena Ahmadiyah lebih berbahaya daripada PKI.
 "Ahmadiyah harus dibubarkan. Kalau pemerintah tidak sanggup membubarkan Ahmadiyah, pemerintah saja yang harus bubar," ujar Ba'asyir dari balik terali besi saat menunggu persidangan di sel Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/2/2011).
Kini, umat Islam akan menyaksikan dan melihat sendiri apakah Ahmadiyah yang akan dibubarkan oleh pemerintah atau pemerintahan yang akan dibubarkan oleh umat ? Wallahu'alam bis showab!

Kamis, 03 Februari 2011

TUNISIA DAN MESIR

Pemberontakan yang berhasil menurunkan rezim diktator Ben Ali di Tunisia dan tampaknya, Mubarak akan menjadi pemimpin berikutnya yang harus pergi, lapor The Jakarta Globe. Beberapa pengamat bahkan membandingkan gelombang demonstrasi di negeri-negeri Muslim dengan jatuhnya tirai besi dan runtuhnya komunisme di Eropa-peristiwa tak terduga sampai itu benar-benar terjadi-dan bahwa Tunisia dan Mesir adalah awal dari gelombang yang akan menyapu rezim-rezim otokratis terkenal lainnya di dunia Islam.

Shadi Hamid dari Pusat Brookings Doha mencatat, "penghalang ketakutan yang selama ini tersimpan oleh massa Muslim di bawah kontrol penguasa mereka telah rusak oleh pemberontakan Tunisia".

Setelah protes Tunisia kini di Mesir, Aljazair, Yordania dan Yaman memulai hal yang sama.  Perkembangan ini menempatkan Barat dalam ketakutan.

Baik Ben Ali di Tunisia dan Mubarak di Mesir telah selama bertahun-tahun menerima banyak dukungan dari negara Barat.  Amerika mendukung Mesir miliaran dollar per tahun.  Tunisia merupakan "poster boy" IMF.

Bahkan meskipun fakta bahwa banyak pendemo di Tunisa berada di bawah slogan "kebebasan dan demokrasi", negara-negara Barat cemas pendukung politik Islam akan datang pada kekuasaan.

Namun, dapat dikatakan bahwa pengambilalihan Islam masih merupakan hasil yang paling mungkin pada peristiwa di Tunisia, Mesir, Aljazair, Suriah, Yordania dan Yaman.

Karena meskipun pasukan Islam mungkin tampak sebagian besar tidak ada di protes saat ini, siapapun yang akrab dengan sentimen dan kecenderungan Islam selalu terasa kuat di antara rakyatnya.

Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa pemakaman Mohammed Bouazizi, pemuda Tunisia yang menempatkan dirinya diantara pendemo yang menentang Ben Ali dan dengan demikian memulai pemberontakan, menampilkan slogan seperti "martir ini dicintai Allah!"

Dan juga oleh kenyataan bahwa penyelenggara demonstrasi di Mesir pada Selasa lalu merasa diri mereka terpaksa tidak menunjukkan pandangan agama dan meminta kepada massa hanya membawa bendera Mesir dan tidak ada simbol-simbol agama.

Namun demikian, protes dimulai dengan sholat berjamaah di alun-alun di mana massa berkumpul.

Kenyataan bahwa umat Islam tidak menginginkan demokrasi dan sekuler, telah ditunjukkan oleh banyak jajak pendapat.  Survei terbaru menunjukkan bahwa 85 persen Mesir dan 91 persen Indonesia mendukung kehadiran Islam dalam politik.  82 persen Mesir, 70 persen Yordania dan 40 persen Indonesia mendukung pengenalan hukum Islam seperti rajam untuk perzinahan dan hukuman mati karena murtad.

Oleh karena itu, adalah mungkin bahwa kata kebebasan bagi Muslim dipahami bukan sebagai permisif dan tidak menghormati hukum agama, seperti di Barat, melainkan untuk hidup menurut Islam.  Sebagai contoh, Tunisia melarang penggunaan kerudung dan memenjarakan Muslimah yang mengenakannya.

Meskipun media Barat terdiam mengenai ini, kita harus mengakui pemberontakan populer di negara-negara Arab berhubungan dengan Islam.  Sedangkan kaum revolusioner tidak menyerukan pembentukan sebuah negara Islam.

Sementara itu, diplomat dan pengamat Barat memprediksi bahwa ketidakstabilan yang berkembang di negeri-negeri Muslim ini akan memberikan tantangan baru bagi AS dan "Israel", yang dianggap "master" di Timur Tengah, ujar CBS.

"Mesir sekarang menyaksikan tsunami politik besar dengan konsekuensi untuk wilayah disekitarnya," seorang diplomat Arab dari negara Timur Tengah yang bertugas di Kairo sampai Agustus lalu memperingatkan.  Berbicara kepada CBS News, diplomat ini memperingatkan "berbagai bahaya" setelah perubahan rezim di Mesir.

Ke depan, ia mencatat kemungkinan yang muncul adalah meningkatnya secara signifikan "militan" Islam di Mesir yang akan mengambil garis keras terhadap AS dan Israel untuk menjadikan Mesir simbol perubahan bagi orang lain untuk diikuti.

Sementara saat ini tampaknya Presiden Hosni Mubarak menentang kemungkinan, Mesir semakin terkunci dalam keadaan lumpuh yang memaksa banyak pengamat untuk mengundurkan diri untuk merubah rezim.

Sementara itu, kembalinya Mohamed El-Baradai untuk memimpin protes telah meningkatkan kemungkinan masa depan pemerintah akan dipimpin oleh seorang tokoh yang akan mengejar reformasi internal sambil mempertahankan hubungan dengan AS, "Israel" dan kekuatan luar lainnya.

Mubarak, dalam tiga dekade jabatannya sebagai presiden, telah seringkali menjadikan dirinya kekuatan untuk asing sebagai benteng paling efektif melawan "Islam garis keras".

Namun demikian, kemungkinan "Ikhwanul Muslimin" berkuasa sepertinya akan menjadi nyata.

"Ikhwanul Muslimin telah mengambil peran sebagai wakil kunci dari underdog Mesir.  Dalam situasi seperti sekarang ini, rakyat memiliki kesempatan sempurna untuk didengar dari sebelumnya," ujar diplomat Arab lainnya yang bertugas hingga 2009 di Kairo. 

Kamis, 27 Januari 2011

PELAJAR KOK TERORIS ? SEBERAPA BAHAYA DAN BUKTINYA ? ANEH....

 
PENJAHAT - PENJAHAT DI NEGERI INI SUNGGUH BANYAK..
YANG PALING BERBAHAYA ADALAH PENJAHAT BERDASI DAN MEMAKAI JAS...
MEREKALAH SESUNGGUHNYA " PARA PENJAHAT = TERORIS "
KESENGSARAAN DAN KEMISKINAN RAKYAT ADALAH ULAH MEREKA...
APALAGI YANG SUDAH NYATA " KASUS " MEREKA,
SEPERTI KASUS GAYUS DLL..
TAPI TIDAK PERNAH TERSENTUH HUKUM !!!
KASUS TERORIS DAN TERORISME YANG BANYAK DI-INDENTIKKAN DENGAN ISLAM SAMPAI SEKARANG HANYA SEPERTI PENGALIHAN " PERHATIAN PUBLIK "
DAN SEBENARNYA ADALAH REKAYASA THE REAL TERORIS YAKNI AMERIKA,
ANDA KURANG YAKIN ? LIHAT SAJA BAGAIMANA SEPAK TERJANG AMERIKA MEMBUNUH BANYAK WARGA SIPIL DI TIMUR TENGAH DLL, JUGA MEMBIARKAN ISRAEL MEMBANTAI WARGA PALESTINA...

 
PAGI itu, jarum jam menunjuk pukul 06.45. Suasana di SMKN 2 Klaten yang berlokasi di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, tersebut tampak ramai oleh lalu lalang para pelajar. Terlihat dua petugas satpam sedang sibuk mengatur jalan yang menjadi tempat penyeberangan para siswa.

Setengah jam kemudian, suasana di sekolah tersebut sepi. Para pelajar sudah masuk ke kelas masing-masing. Itulah suasana di SMKN 2 Klaten kemarin (26/1). Nama SMKN 2 Klaten menjadi bahan perbincangan cukup hangat setelah sehari sebelumnya (25/1) tim Densus 88 menangkap tujuh orang yang diduga sebagai anggota komplotan teroris binaan Dr Azhari (gembong teroris asal Malaysia yang sudah tewas ditembak Densus 88).

Sebab, enam di antara tujuh pelaku yang ditangkap tersebut berasal dari sekolah menengah kejuruan itu. Di antara enam orang tersebut, berdasar penelusuran Radar Solo (Grop JPNN), tiga orang masih berstatus pelajar dan tiga lainnya alumnus.

Tiga yang masih berstatus pelajar itu adalah Joko Lelono, 19, jurusan teknik elektro; Arga Wiratama, 18, jurusan teknik mesin; serta Yuda Anggoro, 19, jurusan mekanik elektro. Tiga lainnya sudah alumnus. Mereka adalah Nugroho Budi Santoso, 20; Tri Budi Santosa, 20; dan Agung Jati Santoso, 21. Mereka berasal dari jurusan yang berbeda.

"Itu berdasar penelusuran kami terhadap buku induk siswa. Mereka yang masih pelajar sama-sama kelas IV dan merupakan teman seangkatan. Saat ini, mereka masih menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di Solo," jelas Kepala SMKN 2 Klaten Muhammad Soleh kepada Radar Solo di kantornya kemarin. "Kejadian ini membuat kami para guru sangat kaget dan shock," katanya.

Dia menambahkan, berdasar data nilai di kelas I, II, dan III, selama belajar di sekolah, tiga anak tersebut termasuk kategori cerdas. Nilai terendah di semua pelajaran adalah tujuh. Untuk pelajaran agama, nilai mereka memang cukup menonjol, yaitu delapan. Bahkan, ada yang hampir sembilan.

Soleh mengaku kecolongan atas adanya kejadian tersebut. Selama ini, sekolah sudah membebaskan siswa untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki di luar sekolah bagi siswa kelas IV. "Tapi, ternyata ada yang menyalahgunakan kesempatan itu. Apa yang menimpa mereka membuat kami seperti disambar petir. Selama bergaul dengan siswa lain, mereka itu baik dan pendiam," ungkapnya.

Saat ini, lanjut Soleh, sekolah terus berkoordinasi dengan Polres Klaten untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Terutama berkaitan dengan ancaman sanksi yang akan dijatuhkan kepada siswa tersebut. "Secara disiplin, jika benar-benar terlibat dalam organisasi terlarang (teroris), mereka akan dikenai sanksi berat. Apalagi sampai dinyatakan bersalah dan masuk penjara. Tentu akan dikenai skor 100. Artinya, mereka dikeluarkan secara tidak hormat," tegasnya.

Lebih lanjut Soleh menuturkan, sebelum sanksi dijatuhkan, sekolah akan terus berkoordinasi dengan polisi. Sekolah juga akan meminta bantuan polisi untuk memberikan sosialisasi kepada siswa agar berhati-hati dalam bergaul. "Memang, ini sedikit terlambat. Tapi, tidak ada salahnya juga kami minta bantuan kepada penegak hukum agar ke depan kasus serupa tidak terulang," ujarnya.

Joko Purnomo, guru agama di SMKN 2 Klaten, menambahkan, tiga siswa yang ditangkap Densus 88 itu (Joko Lelono, Arga Wiratama, dan Yuda Anggoro) termasuk siswa yang aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah yang bernama rohis. Bahkan, nilai mata pelajaran agama mereka cukup bagus. "Jadi, kami kaget saat mendapat kabar ada siswa sekolah ini yang ditangkap polisi. Selama ini, mereka tidak pernah memiliki pemikiran ekstrem terhadap ajaran agama," katanya.

Hal senada disampaikan mantan Ketua Rohis SMKN 2 Klaten Khabib Muzaki. Dia sering bergaul dengan Arga dan Joko Lelono. Namun, pergaulan tersebut sebatas kakak dan adik kelas. "Mas Joko itu humoris. Setiap kegiatan rohis selalu membantu. Jadi, kami sebagai adik kelas juga sangat kaget saat ada kabar dia terlibat jaringan seperti itu (teroris)," ungkapnya.

Selama mengikuti diskusi, Arga dan Joko tidak pernah menunjukkan pemikiran yang berbeda jauh dari pandangan siswa lainnya. Zaki mengenal Joko sebagai pribadi yang pendiam. Termasuk saat mengikuti diskusi.

Hal tersebut berbeda dari Arga. Siswa dari Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah, tersebut lebih banyak terlibat dalam kepanitiaan kegiatan. Selama Zaki menjabat ketua rohis, hampir dua tahun Arga selalu minta ditempatkan di seksi perlengkapan.

"Kalau Mas Arga, jarang bicara namun banyak bekerja. Yang jelas, dia selalu terlibat dalam kegiatan yang diadakan rohis. Orangnya rajin membantu setiap even yang digelar," ujarnya.

Di bagian lain, Bupati Klaten Sunarna menuturkan, kasus yang menimpa siswa SMKN 2 Klaten itu harus menjadi pelajaran bagi seluruh sekolah. Terungkapnya kasus tersebut menunjukkan bahwa bahaya teroris berada di sekitar masyarakat. "Saya minta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk lebih waspada. Pengawasan terhadap anak, siswa, harus terus dilakukan. Pembinaan secara berkelanjutan tetap dilaksanakan sekolah," tegasnya.

Dia meminta perangkat desa melapor jika ada warga asing yang mencurigakan. Setiap pendatang baru yang menginap di rumah warga juga harus melapor kepada ketua RT setempat. "Ini menjadi bagian dari tugas seluruh masyarakat. Bukan hanya polisi. Semua wajib mengawasi dan membantu tugas kepolisian," katanya.

Sementara itu, hingga siang kemarin, lima lokasi penggerebekan terduga teroris masih dipasangi police line. Anggota Polres Klaten juga disiagakan untuk menjaga lokasi agar steril dari warga. Sebelumnya, tim Densus 88 menangkap tujuh terduga teroris di lima lokasi di Klaten. 

 
Sumber : JPPN

Kamis, 20 Januari 2011

VIDEO & LIRIK : ANDAI AKU JADI GAYUS TAMBUNAN, PENCIPTA LAGU MALAH DITEROR

INDONESIA ADALAH NEGARA ANEH !!!    KENAPA ???
KOK PEJABAT DAN PEMERINTAHAN,
BANYAK TERSINGGUNG DENGAN LIRIK LAGU INI ???

KALAU MERASA TAK BERSALAH KENAPA TERSINGGUNG ???

KALAU REDAKSI JADI PEMERINTAH NEGERI INI,
JUSTRU....
SEMUA YANG TERKAIT AKAN DIHUKUM BERAT !!!
DIPECAT DAN PARA PELAKU MALING (KORUPSI DAN SEJENISNYA)
Dengan LIMIT TERTENTU,
AKAN DIHUKUM POTONG TANGAN AGAR  JERA  !!!

INDONESIA  ADALAH NEGARA KAYA YANG AMBURADUL !!!
EKONOMI & SEMBAKO SAJA TAK BISA DIKENDALIKAN PEMERINTAH ???
KARENA PEMERINTAH TIDAK JUJUR
DAN
TIDAK MEMIHAK RAKYAT !!!

INI ADALAH FAKTA !!!
SEMAKIN HARI, KEADAAN TIDAK LEBIH BAIK DARI SEBELUMNYA !!!

BENCANA-BENCANA YANG BANYAK TERJADI ADALAH KARENA
DOSA PEMERINTAH YANG ZALIM...
PAKAILAH MATA HATI ANDA UNTUK SEMUA INI...
BANYAK SEKALI KETIMPANGAN DAN KELICIKAN,
MEMANG MANUSIA TIDAK ADA YANG SEMPURNA,
TAPI PALING TIDAK
PILIHLAH MANUSIA YANG AMANAT UNTUK PEMIMPIN ANDA !!!
BUKAN MANUSIA NGAK ADA OTAKNYA,
SELEBRITIS DAN MEREKA YANG NGAK ADA AKHLAK !!!




Andai Aku Jadi Gayus Tambunan


11 Maret
Diriku masuk penjara
Awal ku menjalani
Proses masa tahanan
Hidup di penjara
Sangat berat kurasakan
Badanku kurus
Karena beban pikiran
Kita orang yang lemah
Tak punya daya apa-apa
Tak bisa berbuat banyak
Seperti para koruptor
Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan
7 Oktober
kubebas dari penjara
Menghirup udara segar
Lepaskan penderitaan
Wahai saudara
Dan para sahabatku
Lakukan yang terbaik
Jangan engkau salah arah
Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan
Biarlah semua menjadi kenangan
Kenangan yang pahit
dalam hidup ini
Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah

PENCIPTA LAGU GAYUS MALAH DITEROR ???
BETUL- BETUL ANEH INDONESIA INI !!!


Selasa, 11 Januari 2011

EKONOMI KERAKYATAN MANA ADA DI INDONESIA

1. Harga Gas Murah (khusus 3kg) hanya menjelang laku..
    Gas 3kg malah banyak menjadi Petaka (meledak)
2. Harga Minyak Tanah hampir 10.000,-
3. Harga Beras sudah diatas Rp. 10.000,- per Kilogram
4. Harga sembako lain pun gila-gilaan naik...

jadi kalau ada namanya subsidi silang itu BOHONG,
tidak banyak menolong RAKYAT..
Sebab KEBUTUHAN LEBIH TINGGI KENAIKANNYA

Ironisnya Pemimpin dan Para Wakil Rakyat sibuk memikirkan Uang Anggaran Belanja Negara
atau Daerah MAU DIAPAIN YA?  macam2 saja Ide GILA mereka agar DANA ini habis..



DLL

APA SEBAB ?

Karena Pemimpin dan Wakil Rakyat kebanyakan adalah :

1. BUKAN MANUSIA YANG AMANAT
2. ARTIS YANG JELAS NGAK ADA OTAKNYA,
3. BANYAK DARI KALANGAN PREMAN >>> ADU JOTOS (klik )
4. NGAK JUJUR.. CONTOH SOAL SUBSIDI MIGAS (klik), BANYAK KASUS 
    PENYIMPANGAN HUKUM, KORUPSI GILA2AN (klik) TUTUP MATA SAJA..

Sabtu, 25 Desember 2010

Indonesia Kaya !! Hutangnya perorang saja Rp.106juta.




“Tak ada negara yang menjadi sejahtera karena utang,” ujar Gantam Bangyopadhyay dari Nadi Ghati Morcha, yang bekerja untuk masyarakat adat di Chhattisgarh, India. 
Namun, inilah fakta Indonesia. 
Penguasanya tidak pernah belajar dari pengalaman. 
Berutang sudah menjadi bagian dari budaya. 

Pada akhir pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1966, utang luar negeri Indonesia 2,437 miliar dolar AS. 

Jumlah ini meningkat 27 kali lipat pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto Mei 1998, dengan nilai 67,329 miliar dolar. Pada akhir tahun 2003 utang itu menjadi 77,930 miliar dolar AS.
 
Menjelang akhir tahun 2008—memasuki akhir masa kepemimpinan SBY-JK—utang Indonesia sudah mencapai 2.335,8 miliar dolar. Selain karena penambahan utang baru, hal itu terjadi sebagai dampak langsung dari terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap tiga mata asing utama: Yen Jepang, Dolar AS dan Euro. Padahal bulan Juni 2008 utang luar negeri Indonesia masih 1,780 miliar dolar. (Kompas, 24/11/2008).
Konsekuensinya, cicilan utang yang harus dibayar Indonesia tahun 2009 adalah sebesar 22 miliar dolar, sama dengan Rp 250 triliun. Cicilan utang Pemerintah 9 miliar dolar dan cicilan utang swasta 13 miliar dolar. Di antara utang Pemerintah itu, uang luar negeri yang jatuh tempo pada 2009 senilai Rp 59 triliun (Kompas, 24/11/2008).
Cicilan tahun 2009 sebesar itu, kalau kita bagi dengan jumlah penduduk Indonesia (± 230 juta jiwa), sama dengan Rp 1.086.000/jiwa. Jumlah ini masih lebih besar dibandingkan dengan UMR DKI Jakarta sebesar Rp 1.069.865. Kemudian, andai Indonesia mau melunasi seluruh utangnya, maka penduduk negeri ini masing-masing harus membayar Rp 106 juta perkepala!