-->
w
| Tentang | Ketentuan| Privacy & Policy | Disclaimer | | Alamat : Jalan Desa Harapan Sudirman No. 71A Duri Riau 28884 |
| ☎ Call / Chat Wa : 0853 6582 0822 | ✉ Email :admin@duririau.com |

Kami menjual Rumah Siap Huni, Kaplingan Strategis, juga menerima Borongan Bangunan




Harga Promo Khusus Member, Ayo bergabung, S & K Berlaku



Popular Post

Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 April 2023

BAGAIMANA JOKOWI MENDUKUNG GANJAR, MENCADANGKAN PRABOWO, DAN MENOLAK ANIES


BAGAIMANA JOKOWI MENDUKUNG GANJAR, MENCADANGKAN PRABOWO, DAN MENOLAK ANIES

Denny Indrayana
Guru Besar Hukum Tata Negara
Senior Partner INTEGRITY Law Firm
Registered Lawyer di Indonesia dan Australia

Ini adalah kisah tentang kerja politik Presiden Jokowi untuk ikut memenangkan pemilihan presiden 2024. Pastinya bukan sebagai pasangan calon peserta pilpres, tetapi memastikan paslon yang beliau dukung tampil sebagai juara dalam kompetisi Pilpres 2024.

Maaf jika tulisannya akan panjang, karena banyak hal yang perlu saya sampaikan, agar lumayan lengkap dan utuh, meskipun tidak bisa seluruhnya diceritakan. Beberapa nama dan peristiwa terpaksa tidak diungkap jelas, agar lebih aman dan tidak justru menimbulkan persoalan. Supaya tidak gagal paham, mohon membaca tulisan ini sampai tuntas.

Tulisan ini saya buat sebagai ikhtiar, untuk menjaga agar Pilpres 2024 tetap berjalan Jujur dan Adil. Saya sadar betul apa yang saya tulis ini akan membuat tidak nyaman beberapa kalangan, khususnya Presiden Jokowi dan para pendukungnya. Namun, karena didasari niat tulus untuk menjaga kehormatan demokrasi kita, biarlah saya menyediakan diri untuk menjadi pengingat, tentu dengan resiko disalahartikan, serta tidak disukai beberapa kalangan tersebut.

Sebab, keterlibatan aktif Presiden Jokowi yang ikut cawe-cawe dalam Pilpres 2024 demikian adalah salah satu ancaman nyata bagi demokrasi kita. Sebagai orang yang mengangkat salam dua jari dan ikut memilih Jokowi di Pilpres 2014, saya merasa bertanggung jawab untuk tidak membiarkan Beliau melakukan kesalahan konstitusional yang sangat fatal dan membahayakan kehidupan berbangsa.

Setiap orang — tidak terkecuali seorang presiden sekalipun — tentu berhak punya pilihan dan preferensi calon presiden. Tetapi ketika sang presiden yang sedang menjabat menyalahgunakan kewenangan dan pengaruh yang dimilikinya untuk memenangkan paslon yang didukungnya, maka sang presiden jelas-jelas telah melanggar konstitusi.

Karena salah satu tugas utama presiden adalah memastikan setiap pemilu berjalan free and fair. Sebab, dengan kekuatan dan jaringan yang dimilikinya, sang presiden punya peluang besar untuk mempengaruhi hasil pemilu. Akibatnya, arena pertandingan tidak lagi adil bagi semua paslon, utamanya yang tidak mendapat dukungan sang presiden.

Agaknya, tidak ingin lagi mengalami kekalahan sebagaimana kisah Pemilihan Gubernur Jakarta 2017, ketika jagoan yang Beliau dukung Ahok alias BTP kalah dari Anies Baswedan; Maka untuk Pilpres 2024, Presiden Jokowi betul-betul mengambil peran sebagai the real king maker, sayangnya dalam bentuk yang salah.

Sampai tulisan ini dibuat, tanpa menafikan adanya kemungkinan dinamika dan perubahan, Presiden Jokowi terbaca mendukung paslon Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno, lalu juga mencadangkan sokongan kepada Prabowo Subianto-Airlangga Hartarto, sambil tetap berusaha menggagalkan pencapresan Anies Baswedan, yang kemungkinan berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono, sepanjang partainya tidak berhasil “dicopet” Moeldoko, tentu dengan persetujuan Presiden Jokowi.

Di panggung depan, alias di hadapan publik, keterlibatan Jokowi ini Beliau bantah. Namun dalam realitas panggung belakang, ketika melakukan lobi di ruang-ruang tertutup, langkah dan kerja politik itu nyata dan serius Beliau kerjakan.

Target Presiden Jokowi, siapapun presiden penggantinya adalah orang yang bisa mengamankan dan melanjutkan program kerjanya. Kepada seorang petinggi negara salah seorang lingkar utama Istana mengatakan paling tidak ada dua hal yang diinginkan Jokowi pasca Beliau lengser.

Satu, proyek Ibu Kota Negara (IKN) berlanjut, serta dua, tidak ada masalah ataupun kasus hukum yang menjerat Jokowi ataupun keluarganya.

Dalam pandangan Eros Djarot di talkshow Satu Meja Kompas TV, Jokowi mendukung beberapa capres tertentu dan tidak ikut memilih Anies, karena ingin memastikan bahwa Beliau akan mendarat secara aman dan nyaman.

Karena itu, target utama Jokowi adalah sebisa mungkin hanya ada dua pasangan calon dalam Pilpres 2024. Keduanya adalah all the president’s Men. Calon yang diidentifikasi berseberangan dan mungkin tidak melanjutkan legacy kepresidenannya, sebisa mungkin dieliminasi, sedari awal.

Ibarat rumus makanan 4 sehat 5 sempurna, maka ada 9 strategi 10 sempurna langkah pemenangan yang terbaca dijalankan Presiden Jokowi.

Pertama, di tahap awal, Presiden Jokowi dan lingkaran dalamnya mempertimbangkan opsi untuk menunda pemilu, sekaligus memperpanjang masa jabatan Presiden. Alasan pandemi COVID 19 dijadikan pintu masuk. Seiring berjalannya waktu, opsi ini makin tidak relevan dan kehilangan logika pembenarnya.

Kedua, masih di tahap awal, segaris dengan strategi penundaan pemilu, sempat muncul ide untuk mengubah konstitusi guna memungkinkan Presiden Jokowi menjabat lebih dari dua periode. Opsi ini cepat tenggelam karena tidak mendapat dukungan dari parpol yang sudah bersiap maju dalam pilpres 2024. Apalagi Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan, sesuai konstitusi, presiden hanya menjabat maksimal dua periode.

Ketiga, menguasai dan menggunakan KPK untuk merangkul kawan dan memukul lawan politik.

Strategi mengkerdilkan KPK tersebut berjalan beriringan dengan strategi keempat, menggunakan dan memanfaatkan kasus hukum sebagai political bargaining yang memaksa arah parpol dalam pembentukan koalisi pilpres.

Strategi ketiga dan keempat inilah yang dalam banyak kesempatan saya sebut: memperalat hukum sebagai instrumen dalam strategi pemenangan Pilpres 2024.

Kebetulan beberapa petinggi parpol mempunyai borok dugaan kasus korupsi. Ada yang terjerat pengadaan minyak goreng, izin lahan hutan, kardus duren, dan lain-lain. Ada juga tokoh yang telah disiapkan dugaan korupsi pembelian Bank Banten. Bank itu infonya hanya dibeli dengan harga di bawah 500 miliar, padahal harga seharusnya lebih dari 900 miliar.

Strategi kelima, jika ada petinggi parpol yang keluar dari strategi pemenangan, maka dia beresiko dicopot dari posisinya. Sudah menjadi fakta, seorang pimpinan parpol digeser, salah satu alasannya karena diketahui beberapa kali bertemu dengan bakal calon presiden yang tidak disenangi Jokowi.

Ketika saya menawarkan mitigasi hukum kepada suatu parpol dalam rangka pemilu 2024, sang pimpinan Parpol mengatakan, kita bisa bekerja sama, syaratnya hanya satu, “Anda tidak boleh mendukung Anies sebagai capres”.

Ketika saya tanya mengapa demikian, sang Ketum menjawab, “Saya harus memikirkan dan menyelamatkan partai” sambil tersenyum penuh arti.

Saat diingatkan konstituennya mayoritas adalah pendukung Anies Baswedan, dan jika tidak memilih Anies maka ada resiko parpol tersebut kehilangan pemilihnya sehingga tidak lagi mempunyai kursi di DPR, kader utama partai itu menjawab:

“Jika kami tidak memilih Anies, kami mungkin akan hilang setelah pemilu 2024, tapi kalau ikut memilih Anies, kami akan hilang sejak sekarang” katanya sambil tersenyum kecut.

Strategi keenam, menyiapkan komposisi hakim Mahkamah Konstitusi untuk antisipasi dan memenangkan sengketa hasil Pilpres 2024. Sebagai bagian dari memanfaatkan hukum dalam pemenangan pilpres, maka Jokowi paham benar peran strategis MK sebagai pengadil dan pemutus akhir pemenang Pilpres 2024. Maka komposisi hakim konstitusi pun sudah disiapkan untuk bisa mengamankan dan memuluskan jalan pemenangan.

Ditariknya Hakim Aswanto, dengan cara yang melanggar prinsip independence of the judiciary, karena berani-beraninya mbalelo dan menyeberang ke kelompok hakim yang membatalkan bersyarat UU Ciptaker, adalah salah satu indikator pengkondisian hakim MK yang pro-strategi Presiden Jokowi.

Setali tiga uang, hukuman ringan kepada Hakim Guntur padahal jelas-jelas melakukan skandal pengubahan putusan MK. Tidak aneh, hukuman minimalis demikian akan berbalik jasa dalam bentuk putusan yang menguntungkan kubu status quo. Terakhir, terpilihnya kembali Anwar Usman, sang adik ipar Presiden Jokowi, sebagai Ketua MK, menguatkan indikasi bahwa MK sudah siap menyambut strategi pemenangan pilpres ala Jokowi.

Sebagaimana KPK yang sudah dikuasai dan disalahgunakan dalam penanganan beberapa kasus korupsi, MK pun sudah pula dikondisikan, dan karenanya menambah panjang ancaman pelaksanaan Pilpres 2024 yang seharusnya Jujur dan Adil.

Strategi Jokowi yang ketujuh adalah tidak cukup hanya mendukung pencapresan Ganjar Pranowo, Jokowi juga memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto. Mengapa demikian?

Sedari awal preferensi Jokowi sebenarnya kepada Ganjar Pranowo. Ketika menghubungi para Ketum Partai salah satu poros koalisi bentukannya, Jokowi menginstruksikan tiga hal. Satu, segera bentuk koalisi tiga parpol. Dua, deklarasikan pencapresan Ganjar. Tiga, jangan sampai ada Anies Baswedan di Pilpres 2024.

Ketika ketiga Ketum Parpol menghubungi Ganjar, kala itu, sang Gubernur Jawa Tengah mengatakan tidak akan maju kalau tidak didukung PDI Perjuangan dan mendapat restu Ketum Megawati Soekarnoputri. Ketika dilaporkan kepada Presiden Jokowi, Beliau menjawab, “Baiklah, biar nanti saya yang akan berbicara dengan Ibu Mega”.

Sejarah kemudian mencatat, Megawati Soekarnoputri akhirnya memilih Ganjar ketimbang Puan Maharani, pilihan awal Beliau. Jokowi berhasil melaksanakan misinya.

Penantian Ganjar bukanlah sebentar. Seorang pejabat negara bertanya ke Ganjar,

“Jadi bagaimana ini Pak Ganjar soal Pilpres 2024”

“Begini Pak. Saya dengan Ibu Megawati itu punya nomor khusus untuk kami berkomunikasi. Nah, sudah setahun ini nomor telepon itu tidak berbunyi. Saya juga masih menunggu kabar dari Beliau. Hanya melalui orang di sekitar saya, Ibu Mega menitip pesan: Tolong Jaga Mas Ganjar ya”.

Penantian panjang Ganjar Pranowo—senior saya di Fakultas Hukum UGM tersebut, akhirnya terjawab pada hari Kartini 21 April lalu. Lalu, besoknya di hari lebaran, Presiden Jokowi di rumah Solo hanya menerima Prabowo Subianto.

Dalam harapan Jokowi yang ideal menjadi presiden adalah Ganjar Pranowo. Tetapi kalau langkah Anies Baswedan tidak terbendung untuk menjadi capres, maka harus ada capres ketiga, dan pilihan Jokowi jatuh kepada Prabowo Subianto.

Presiden Jokowi membaca survei politik. Salah satunya dari CSIS. Pada rilisnya di 26 September 2022, survei CSIS menyimpulkan meskipun Ganjar dominan, tetapi akan kalah jika dihadapkan head to head dengan Anies Baswedan. Anies bahkan juga dinyatakan menang jika melawan Prabowo Subianto.

Maka untuk memecah suara pendukung Anies yang kebanyakan dari kalangan Islam (hijau), maka dimunculkan Prabowo Subianto yang mengidentifikasikan diri sebagai capres dari kelompok hijau pada Pilpres 2019. Singkatnya, pemilih Prabowo dan Anies beririsan. Dengan memajukan Prabowo, kemungkinan Ganjar untuk menang semakin besar, ketimbang resiko hanya menghadapkannya langsung dengan Anies. Survei CSIS tadi, mengkonfirmasi itu.

Bukan hanya memecah suara Anies dengan mendukung pencapresan Prabowo. Jokowi juga menyiapkan Sandiaga Uno sebagai Cawapres Ganjar, lagi-lagi untuk memecah suara kelompok Islam pendukung Anies.

Maka, jika di Pilgub Jakarta 2017, koalisi Prabowo mendukung Anies-Sandi melawan Ahok yang didukung Jokowi. Lalu di Pilpres 2019, Prabowo-Sandi adalah pilihan bagi aliran politik hijau-islam, melawan Jokowi-Ma’ruf Amin dari kelompok merah-nasionalis. Maka, untuk Pilpres 2024, Jokowi sengaja memasang strategi memecah suara hijau tersebut, dengan target memenangkan politik aliran merah.

Di Pilpres 2024, strategi Jokowi, jikalau Anies tidak berhasil dijegal sebagai capres, maka dia akan berbagi suara kelompok Islam dengan capres Prabowo, maupun Sandiaga yang akan menjadi cawapres Ganjar. Dengan harapan suara merah akan bulat ke Ganjar, dan karenanya lebih mungkin masuk putaran final, dan menang.

Mengapa saya yakin Sandiaga Uno akan menjadi cawapres Ganjar? Tentu saja politik selalu dinamis. Tetapi informasi dan tanda-tanda ke arah pasangan Ganjar-Sandi itu sudah mulai menguat. Di samping strategi Presiden Jokowi untuk memecah suara pemilih Islam tadi, Sandi juga sudah berpamitan dari Partai Gerindra, untuk bergabung dengan PPP. Katanya, karena ada penugasan di tempat lain.

Penugasan itu datang dari Jokowi, bagi Sandiaga—dan sebenarnya juga Erick Tohir—untuk mendekati partai-partai Islam. Sandi ditugaskan masuk ke PPP, lalu membawanya berkoalisi dengan PDI Perjuangan dan menjadi Cawapres Ganjar. Banyak survei menguatkan, pasangan calon Ganjar-Sandi akan sulit untuk ditandingi.

Memang ada juga informasi lain, bahwa Ibu Mega meminta Cawapres Jokowi adalah dari NU yang sepuh. Rupanya beliau nyaman dengan sosok KH Ma’ruf Amin, yang tidak mengganggu dan menjadi kompetitor partai banteng moncong putih. Kita lihat saja dalam waktu dekat, apakah Sandiaga yang mendampingi Ganjar, atau tokoh lain yang lebih NU, Mahfud MD, misalnya.

Persoalan dengan Prof Mahfud adalah, beliau mendapat dukungan luas dan populer di kalangan masyarakat bawah, tetapi ditakuti dan tidak menjadi pilihan di kalangan atas petinggi parpol. Itu pula yang menyebabkan Prof Mahfud gagal menjadi cawapres, meskipun sudah berbaju putih, di detik-detik akhir pengumuman pendamping Jokowi dalam Pilpres 2019.

Strategi kedelapan Jokowi adalah membuka opsi mentersangkakan Anies Baswedan di KPK. Ini sudah menjadi rahasia umum, terkait dugaan korupsi Formula E. Meskipun opsi ini semakin kehilangan momentum, namun belum juga menghilang dari opsi Jokowi.

Ketika mendadak dideklarasikan sebagai capres oleh Partai Nasdem, salah satu pemicu utamanya adalah ada informasi, bahwa Anies akan segera ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

Partai Nasdem sendiri bukan tanpa ancaman ketika nekat mendeklarasikan Anies. Dalam pertemuan terbatas elit partainya, Surya Paloh dikabarkan berkata, “Abang ini meskipun dibunuh ataupun dipenjarakan tetap akan mendukung Anies, tidak akan berubah”.

Hasil pertemuan Jokowi-Surya Paloh sendiri menghasilkan kesepakatan “status quo”. Artinya, Partai Nasdem akan tetap mendukung Anies, dan menterinya di kabinet tetap tidak direshuffle. Tetapi bukan berarti posisi Nasdem aman. Dugaan korupsi BTS menyebabkan kader utama Nasdem Menkominfo Johnny Plate diperiksa Kejaksaan Agung. Dapat dipastikan, pemeriksaan selevel menteri demikian tentunya atas sepengetahuan dan persetujuan Presiden Jokowi.

Soal info Anies menjadi tersangka sempat muncul dalam pembicaraan Presiden Jokowi dengan salah satu tokoh bangsa utama. Dalam obrolan tersebut sang tokoh terkejut, ketika disebutkan hanya akan ada dua paslon capres 2024.

“Bukankah banyak kandidat yang bermunculan, Bapak Presiden, misalnya ada juga Anies Baswedan”.

“Anies tidak bisa maju karena ada kasusnya di KPK”, jawab Jokowi.

Risau dengan berita pentersangkaan Anies tersebut, pembicaraan itu diceritakan sang tokoh ke Presiden Keenam SBY ketika berkunjung ke Cikeas. Maka muncullah statemen politik SBY di Jakarta Convention Centre pada Kamis 15 September 2021 yang intinya Beliau risau dengan adanya skenario dari kelompok tertentu yang mengatur Pilpres 2024 hanya diikuti dua pasangan calon, dan karenanya menjadi tidak jujur dan tidak adil.

Strategi kesembilan adalah mengambil alih Partai Demokrat melalui langkah politik yang dilakukan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Kita sama-sama paham bahwa Moeldoko telah dan terus berusaha mengambil alih Partai Demokrat. Terakhir diajukan upaya Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung. Jika dimenangkan, maka Demokrat akan dikuasai Jokowi, dan dapat dipastikan, Anies akan kehilangan dukungan partai mercy dan terancam tidak mendapat tiket pencapresan.

Saya ingin kita jujur dan tegas mengatakan yang mengambil alih Demokrat adalah Presiden Jokowi, bukan Moeldoko. Sudah jelas Moeldoko adalah KSP Presiden Jokowi, orang lingkar satu istana. Maka setiap langkahnya kalau dibiarkan, berarti mendapat persetujuan sang Presiden.

Ketika Moeldoko dibiarkan mengambil alih Partai Demokrat, tidak direshuffle, dan sekarang mengajukan PK ke MA, harus dikatakan ini adalah strategi Jokowi untuk mencaplok Demokrat, sekaligus menggagalkan pencapresan Anies Baswedan.

Seorang Advokat memberi info, bahwa PK Moeldoko tidak bisa dianggap ancaman yang enteng-enteng saja. Teman advokat ini menyampaikan dihubungi beberapa hakim agung yang terjerat kasus korupsi mafia perkara di MA. Mereka meminta sahabat advokat tersebut menjadi pengacaranya. Karena pernah di KPK, dan aktivis antikorupsi, sang sahabat menolaknya.

Tapi dari pertemuan itu, ada kisah sangat menarik yang kemudian muncul, dan minta saya menyampaikan kepada petinggi Demokrat. Bahwa para hakim agung yang bermasalah itu dijanjikan dibantu kasusnya, bahkan hakim agung lain yang mestinya juga diciduk kasus yang sama tidak akan disentuh, dengan kesepakatan tukar guling perkara. Yaitu, para hakim agung itu membantu memenangkan PK yang diajukan Moeldoko Cs atas Partai Demokrat AHY.

Pencaplokan partai oleh seorang Presiden adalah persoalan serius. Apalagi partai yang dicaplok adalah partai seorang mantan presiden. Bukan saja itu membahayakan demokrasi kepartaian di negara kita, tetapi menunjukkan bagaimana kasarnya politik yang dilakukan. Bayangkan, untuk membatalkan pencapresan Anies, seorang Presiden sampai nekat merestui, paling tidak membiarkan KSP-nya, mengganggu partai resmi yang dilahirkan bukan orang sembarangan, Presiden Keenam RI, Pak SBY.

Strategi penutup kesepuluh yang menyempurnakan adalah dengan berbohong kepada publik, maka genap lengkaplah menjadi 10 sempurna. Presiden Jokowi berulang kali mengatakan urusan capres adalah kerja para Ketum Parpol, bukan urusan Presiden. Maka, Beliau protes ketika semua soal capres dikaitkan dengan dirinya.

Tetapi pernyataan itu jelas tidak jujur. Di pertemuan buka puasa yang diadakan PAN saja, setelah melakukan pertemuan tertutup, Presiden Jokowi dengan seluruh partai pendukung pemerintah—kecuali Partai Nasdem yang tidak diundang untuk hadir, di hadapan media menyampaikan ide tentang koalisi besar, antara KIB dengan Gerindra dan PKB. Jelaslah, pembentukan koalisi besar ada urun andil dari Presiden Jokowi.

Ketum PKB Muhaimin Iskandar juga menceritakan ketika bertemu dengan Presiden Jokowi diarahkan segera deklarasi pasangan calon dengan Prabowo.

“Segera saja Cak Imin deklarasi paslon dengan Pak Prabowo. Cak Imin sampaikan ke Beliau, nanti saya juga akan bicara dengan Pak Prabowo”.

“Baik Bapak Presiden”.

Tidak berapa lama setelahnya Presiden Jokowi juga bertemu dengan Ketum Gerindra Prabowo. Lalu akhirnya Prabowo bertemu Muhaimin di rumah Kertanegara pada 10 April 2023.

“Pak Prabowo, Presiden Jokowi meminta kita segera deklarasi paslon Prabowo-Muhaimin”.

“Lho, Pak Muhaimin, saya baru bertemu dengan Presiden Jokowi, dan pesannya segera deklarasi Prabowo-Airlangga”.

Terkejut dan kecewa atas pesan yang berbeda tersebut, Muhaimin akhirnya meninggalkan kediaman Prabowo dan menyampaikan pernyataan media: Belum ada kesepakatan capres-cawapres.

Arah Jokowi mendukung Koalisi Besar dengan paslon Prabowo-Airlangga semakin terang ketika di hari lebaran pertama Prabowo bertemu Presiden Jokowi, lalu di hari kedua Prabowo menemui Aburizal Bakrie dan Airlangga Hartarto.

Itulah sekelumit kisah bagaimana Jokowi mendukung pasangan Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno, dengan cadangan Prabowo Subianto-Airlangga Hartarto, sambil tetap berusaha menggagalkan Anies Baswedan, yang kemungkinan berpasangan dengan AHY. Kalau, Partai Demokrat AHY berhasil “dicopet” Moeldoko dengan restu Jokowi, nasib pencapresan Anies akan diujung tanduk. Kecuali ada partai yang bergeser ke Koalisi Perubahan. Misalnya, PKB yang Muhaimin Iskandar terbaca kecewa, berpindah mendukung Anies. Pertanyaannya seberapa kuat tameng perlindungan Cak Imin ketika diserbu dengan berbagai dugaan korupsi yang akan ditembakkan deras ke tubuhnya dan PKB.

Akhirnya, Presiden Jokowi tentu boleh punya preferensi capres jagoannya. Tetapi menggunakan pengaruh dan kekuatan kepresidenannya untuk menjegal bakal capres yang lain, seharusnya tidak dilakukan. Demokrasi dan Pilpres 2024 akan dicatat sebagai pemilu yang penuh rekayasa politik yang kotor, dan itulah legacy Presiden Jokowi yang harus dihentikan, sebelum menjadi kenyataan.

Pekalongan-Jakarta-Melbourne, 24 April 2023

Denny Indrayana

Jumat, 01 Mei 2020

BANTUAN LEMPAR LANGSUNG, Ada yang Mau ? Gini Caranya







Di Copy dari Beberapa Sumber

https://www.edunews.id/news/politik/bantuan-langsung-lempar-jokowi-gunakan-apbn

EDUNEWS.ID – Kalangan aktivis pergerakan menyoroti kegiatan Presiden Joko Widodo membagi-bagikan “bantuan langsung” kepada masyarakat dalam setiap kunjungan ke daerah.

Sejauh ini di antara yang paling disoroti adalah pembagian sepeda kepada anggota masyarakat yang dapat menjawab kuis dari Jokowi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Jokowi kepada calon penerima sepeda, biasanya anak-anak, kerap dianggap hanya mengedepankan aspek lucu dan menghibur semata.


Selain itu kalangan aktivis juga menyoroti kebiasaan Jokowi melemparkan bantuan dari dalam mobilnya. Ini yang kemudian melahirkan istilah baru di kalangan aktivis, “Bantuan Langsung Lempar”.

Belakangan Ketua Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan DPP Partai Gerindra, Iwan Sumule, mempertanyakan penggunaan APBN di balik pengadaan tas yang digunakan dalam aksi “Bantuan Langsung Lempar” yang ditenderkan oleh Kementerian Keuangan dengan menggunakan dana APBN.

“Wah, ternyata, “Bantuan Langsung Lempar” menggunakan dana APBN dan ditenderkan pula agar tampak seperti layaknya proyek-proyek APBN lainnya,” kata Iwan Sumule, dalam perbincangan dengan redaksi.

Menurut Iwan Sumule, aksi Jokowi membagikan “Bantuan Langsung Lempar” terkesan dan tampak seperti sedang kampanye Pilpres 2019, selain tidak mendidik.

“Melempar paket bingkisan dari dalam mobil kepada rakyat, mempertontonkan sebuah prilaku tak beradab seorang pemimpin kepada rakyatnya. Gagalnya sebuah revolusi mental, nawa cita dan trisakti. Jadi sudah pantas tahun 2019 kita ganti presiden,” demikian Iwan Sumule.

https://www.netralnews.com/news/nasional/read/210808/puji.soeharto..sindir.jokowi..tengku.zul

NETRALNEWS.COM - Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengenang masa kepemimpinan Presiden kedua, Soeharto. 

Menurutnya, saat Soeharto berkuasa, harga sembako dibuat murah dan tidak ada yang berani bermain harga kebutuhan pokok. 

"Saat Bapak ini berkuasa sembako dan sembilan bahan pokok dibuat murah. Bahkan sampai harga telor, cabe keriting, garam, gula dibacakan pak Harmoko. Tdk ada yg berani spekulasi harga," tulis Tengku Zul di akun Twitternya, Rabu (29/4/2020). 

Tengku Zul lantas membandingkan apa yang dilakukan penguasa rezim Orde Baru itu dengan rezim sekarang, dimana ia menyindir soal cara pemberian sembako kepada masyarakat dari dalam mobil dinas.

"Tidak perlu melemparkan sembako dari mobil dinas atau pribadi. Cukup buat harganya murah. Titik," cuit @ustadtengkuzul.

Sebelumnya, aksi bagi-bagi sembako dari dalam mobil sudah beberapa kali dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Foto dan video Jokowi membagikan paket sembako banyak beredar di media sosial. 

Terbaru, Presiden Jokowi dibantu Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) membagikan paket sembako dari dalam mobil di Bogor, Jawa Barat pada Minggu (26/4/2020) yang videonya viral di media sosial. 

Dalam video berdurasi 59 detik itu terlihat iring-iringan kendaraan Presiden melintas di salah satu ruas jalan, kemudian beberapa kendaraan yang berada di depan dan belakang mobil yang ditumpangi Presiden membagikan sembako kepada warga di pinggir jalan. 

Presiden yang berada di mobil sedan berwarna hitam tampak melambaikan tangan kepada warga lalu menunjuk ke arah belakang, dimana ada mobil minibus yang membawa paket sembako untuk dibagikan ke warga tersebut. 




Selasa, 24 Juni 2014

kisah jokowi dari voa-islam.com

Jokowi Akan Ditangkap, Megawati Terancam Dilengserkan Pendukung Jokowi?

JAKARTA (voa-islam.com) - Akun Ronin1946 menghembuskan kabar bahwa Gubernur Jakarta Jokowi bakal ditetapkan menjadi tersangka yang sebenarnya hanya tinggal tunggu waktu saja.
Akun Ronin1946 adalah pengganti akun @Triomacan2000 yang dibredel. Setelah pihak @triomacan2000 melakukan kontak via telpon ke Twitter, belakangan diketahui  akibat laporan kubu Jokowi atas rekomendasi Hendropriono dan Arkansas Connection yang menekan agar akun @Triomacan2000 itu ditutup.
Faktor yang menjadi dasar penangkapan Jokowi adalah dengan penyidikan kasus Korupsi Busway Trans Jakarta, dengan Michael Bimo Putranto sebagai pelaku utama, telah menemukan alat bukti cukup untuk Jokowi. Michael Bimo Putranto adalah putra Slamet Suryanto mantan Walikota Solo. Bimo adalah Presiden Pasoepati Indonesia yang merupakan pemasok Busway China.

Bimo diduga KKN dengan Jokowi dalam pengadaan Bus Trans Jakarta dan Bus Reguler senilai Rp 1.5 triliun. Harga bus yang di impor dari China ini di mark up hingga 300%.  Ronin1946 mengungkapkan bawah Jokowi saat itu memanggil Udar ke ruang kerjanya, kenalkan Bimo yang sudah duluan hadir disana. Jokowi titip Bimo pada Udar agar jadi supplier Bus Trans Jakarta.
Harga bus yang di impor dari China ini di mark up hingga 300%. 

Usut punya usut, Bimo berangkat ke China atas nama gubernur Jakarta. Langsung ke pabrik pembuat Bus China murah dan karatan itu. Ekspor ke Jakarta. Semua pemenang tender 6 paket pengadaan Bus Trans Jakarta, diminta Udar atas perintah Jokowi untuk beli Bus ex China dari Bimo.

Ketika terungkap, Jokowi menampik bahwa ia mengenal Bimo "Saya TIDAK kenal BIMO. Banyak orang mengaku dekat saya !" Akibat sikapnya itu Bimo marah meradang dan menganggapnya tidak tahu balas budi, mau cari selamat sendiri padahal ikut nikmati korupsi.

"Bimo meradang. Bimo serbu mendadak ke Balaikota DKI. Eh Jokowi buru-buru melarikan diri, keluar dari pintu belakang samping sambil terkencing-kencing." Ungkap Ronin1946

Siapa Bimo Putranto?
Bimo Putranto siapa dia? Dia wakil ketua PDIP Jateng bersama-sama Jokowi. Anak Walikota Solo Slamet Suryanto. Bimo sponsor Jokowi. Ayah Bimo, Slamet Suryanto Walikota Solo jadi tersangka korupsi, mustahil jadi cawalkot Solo lagi, ketua PDIP Solo Rudyatmo ajukan diri.
Tapi Fransicus Xaverius Rudyatmo sadar diri. Dia sulit menang jika jadi calwalkot Solo karena dia katolik. Pasti kalah. PDIP Solo, Rudyatmo dan Slamet Suryanto sepakat : PDIP harus usung calon walikota alternatif. Seseorang yang bisa dijadikan boneka mereka.
Calon walikota solo alternatif harus Islam abangan. Islam KTP doank. Lebih bagus bila tak punya pengalaman, karena hanya untuk dipajang. Banyak calon bermunculan, pilihan jatuh pada Joko Widodo, yang ditemukan, dibawa dan dikenalkan oleh anak Slamet Suryanto, Bimo Putranto.
Bimo Putranto merekomendasi Jokowi. Walikota Suryanto dan Ketua PDIP Rudyatmo setuju, Tapi itu belum cukup, Jokowi harus dibawa ke Heru, pejabat BIN Jateng dan Seno Samodro (sekarang Bupati Boyolali), untuk minta restu mereka, Jokowi juga harus dapat restu preman & mafia tua Surakarta :   Pur Wisanggeni, bandar Judi "capjikia wisanggeni"  Dia bohir Rudi & Jokowi.
Setelah dukungan untuk Jokowi kuat, barulah Jokowi diduetkan bersama Rudyatmo, maju di Pilwalkot Solo tahun 2005 lalu. Menang 36% suara.
Jadi, pendukung Jokowi - Rudyatmo di Pilkada Solo :  
1. Slamet Suryanto & anaknya Bimo Putranto 
2. PDIP dari Faksi Katolik & Komunis
3. Heru Besar & Seno Samodro (sekarang : wakil Gubernur Jateng &. Bupati Boyolali)  
4. Pur Wisanggeni (Mafia Tua & Bandar Judi Solo)
5. Jong Indonesia dan Pasoepati (Presiden/ketuanya Bimo Putranto)  Posoepati = Batalion desertir TNI / Batalion Panembahan Pasoepati
6. Hoo Hap (Hoo Hap organisasi rahasia/bawah tanah komunis Cina Solo)   Hoo Hap = PMS = Perkumpulan Masyarakat Solo
Pendukung Jokowi - Rudyatmo berikutnya adalah Massa Genk preman Solo tengah & Solo timur, juga berafiliasi pada eks PKI. Jokowi - Rudy hanya menang 36% di pilkada Solo thn 2005. Kenapa bisa menang 90% pada 2010? Apakah komunis Solo bangkit Kembali ?
Prestasi dan kinerja Jokowi - Rudy di Solo hanya rata-rata bahkan di bawah standar kota sejenis. Plus banyak korupsi.  
Kok PKI bisa menang? 
Setelah 1 tahun lebih jadi Walikota Solo, Jokowi diplot naik jadi Gubernur DKI Jakarta dan menang lagi !  Kenapa?  Karena rakyat ditipu.
Setelah setahun lebih jadi Gubernur DKI, Jokowi diplot lagi jadi RI 1. Jadi capres, duet sama Jusuf Kalla.  Tapi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, menunjukan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa Jokowi tak lebih dari jongos penipu & korupsi via Bus Trans Jakarta.
Ronin 1956 menyatakan keterlibatan Jokowi dalam korupsi Bus Trans Jakarta telak dan mutlak. Dia diselamatkan hanya karena sudah terlanjur jadi capres PDIP di pilpres 2014. Seusai pilpres 9 Juli 2014, Jokwoi 'pasti' jadi TERSANGKA korupsi, jadi terdakwa dan jadi NAPI.
Ronin 1956 menyatakan keterlibatan Jokowi dalam korupsi Bus Trans Jakarta telak dan mutlak
Kecuali, jika tiba-tiba REVOLUSI KIRI (KOMUNIS) terjadi. Ingat, komunis tidak pernah meraih kekuasaan tanpa jalan kekerasan.  Ketum PDIP Megawati sekarang mengalami kejadian persis ketika Bung Karno jadi presiden tahun 1964-1965. Terjepit dan terkepung.
Megawati kini terjepit, dia dikepung dan diancam dilengserkan oleh faksi komunis, parkindo, eks PKC China, & jendral-jendral binaan LB Moerdani. Megawati tidak suka Jokowi, bahkan benci setengah mati, tapi dia tersandera oleh satu rahasia yang belum bisa Ronin1946 buka.
Megawati terancam dilengserkan oleh Jokowi dan pendukungnya, rencana mau menaikan Pramono Anung yang sudah dipecat Megawati dan Puan Maharani karena langgar AD/ART. Kudeta terhadap Megawati dan trah soekarno di PDIP sudah direncanakan lama. Sejak 2006 lalu. Sistematis, masif, intensif, efektif. Mega terpojok.
Film Soekarno yang sengaja dibuat, diedarkan kemana-mana termasuk layar tancap di seluruh desa-desa, tujuannya : menghancurkan Soekarnoisme. Film Soekarno yang dibuat & dibiayai Konglo-konglo cina pimpinan James Riady, mencuci otak penonton : soekarno playboy & pengecut. Jongos jepang.
Film itu menghancurkan kebanggaan para pendukung Bung Karno & marhenis yang menjadi pilar utama kekuasaan dan kekuatan Mega di PDIP. Sebaliknya, mereka juga buat dan edarkan Film Jokowi, yang tampilkan si jongos korup dan boneka mafia itu sbg Pahlawan, Nabi Suci Boyolali.

Dua film : Soekarno dan Jokowi. Satu misi : menghancurkan Megawati dan ambilalih PDIP, sebagai "rumah besar" eks PKI.  Entah kenapa Film Soekarno yang melecehkan dan menistakan Proklamator, The Founding Father RI, dibiarkan beredar pic.twitter.com/vxDvZf8iv8

Jadi, kalau ada pihak yang bilang punya rekaman Mega - Basrie (Jagung) : kami tdk percaya. Mustahil Mega bela Jokowi, musuh besarnya ! Kalau sekarang Megawati masih tolerir Jokowi, karena Mega terpaksa, tersandera, terancam. Tapi, usai pilpres nanti, situasi politik berubah.

Sekarang silahkan Jokowi dan faksi parkindo, komunis, oportunis, alumni PKC China & jendral-jendral binaan Benny Moerdani tertawa gembira di atas angin. Tetapi usai pilpres nanti, musuh-musuh Megawati, para anti soekarno dan marhaenis, akan jadi kucing kurap di PDIP. Mereka balik jadi pencundang
Apalagi jika nanti Megawati dibantu penuh Presiden Prabowo Subianto menghancurkan anasir komunis, radikalis ekstrimis di PDIP. 

Sekali lagi mustahil Megawati komunikasi dengan Jaksa Agung untuk bela Jokowi si terduga korupsi Bus Trans Jakarta bersama Bimo Putranto, Ketua Pasopati. Isu Megawati membela Jokowi sengaja ditiupkan kubu Jokowi agar pendukung Mega, Soekarnois, nasionalis, Marhaenis salah langkah, Isu Megawati bela Jokowi adalah isu murahan kelompok Jokowi agar raih suara nasionalis, marhenis, sukarnois, pancasilais, agamis. HATI-HATI.

Apalagi Megawati, Puan, faksi Nasionalis (PNI), Marhaenis, Islam, TIDAK KAMPANYE PILPRES bantu Jokowi.  Mustahil Mega, Puan, Nanan, PNI, Murba, Islam, Nasionalis, Soekarnois, Idealis, mau bantu Pilpres Jokowi. Kenapa? = BUNUH DIRI !

Sekarang di Surakarta, Klaten dan Boyolali, para eks PKI sudah panik setengah mati. Saling curiga siapa pengkhianat & mata-mata di antara mereka, Mereka saling curiga siapa mata-mata dan informan TNI-Polri dan TM2000 di dalam organisasi.

Ronin1946 ternyata sudah punya daftar lengkap tokoh-tokoh eks PKI dan komunis gaya baru. Tinggal ciduk saja ketika saatnya tiba. Mereka mengungkapkan NKRI dan Pancasila harus dijaga, karena tidak ada ruang sedikit pun bagi anti Pancasila dan anti agama, untuk hidup berkembang bahkan ingin jadi penguasa di Republik tercinta. Mungkinkah Prabowo Subianto akan melenggang ke Istana tanpa perlawanan dari kubu Joko Widodo alias Jokowi?  Waktu yang akan menjawabnya. [ronin1946/jabir/voa-islam.com]