-->
w
| Tentang | Ketentuan| Privacy & Policy | Disclaimer | | Alamat : Jalan Desa Harapan Sudirman No. 71A Duri Riau 28884 |
| ☎ Call / Chat Wa : 0853 6582 0822 | ✉ Email :admin@duririau.com |

Kami menjual Rumah Siap Huni, Kaplingan Strategis, juga menerima Borongan Bangunan




Harga Promo Khusus Member, Ayo bergabung, S & K Berlaku



Popular Post

Tampilkan postingan dengan label SALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SALAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Desember 2010

Adab Mengucapkan Salam dan Perkara Izin

Adab Mengucapkan Salam dan Perkara Izin


Islam merupakan dien yang damai dan pembawa keselamatan bagi umat manusia. Mengucapkan salam adalah adab dalam pergaulan sesama muslim dan menjadi salah satu identitas ke-Islaman seseorang sebagaimana yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Baginda Rasulullah tercinta, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Salam adalah ungkapan pengharapan dan do’a seseorang akan keselamatan, kedamaian, rahmat, dan berkah dari Allah ta’ala kepada saudara-saudari rahimakumullah. Dengan menyebarkan salam, akan terpancar keindahan dan perdamaian dalam Islam.

Selain itu, setiap muslim juga diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk menjaga dan menghormati hak-hak sesama. Oleh karena itu, Islam mewajibkan kepada pemeluknya agar selalu meminta izin terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan hak orang lain. Dengan memegang adab-adab izin ini, kehormatan, rasa cinta, dan keharmonisan dalam pergaulan akan senantiasa terpelihara.

Berkenaan dengan SALAM, Islam telah mengatur segala sesuatunya dengan begitu indah namun tegas. Maka dienul Islam pun memerintahkan kita agar tidak mengucapkan atau pun menjawab salam kepada bagi orang kafir.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mengawali ucapan salam kepada kaum Yahudi dan Nasrani …” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Namun sebaliknya, hamba yang shalih selalu bergegas dalam menjawab ucapan salam yang disampaikan oleh orang muslim, entah dia kenal atau tidak kenal (tapi tentu tahu bahwa dia adalah seorang Muslim). Sebab salam merupakan salah satu di antara Nama Allah. Salam berarti keamanan dan ketentraman.

Allah ta’ala berfirman, “Apakah kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa!” (QS. An-Nisa’ {4}: 86).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal, bahwa Rasulullah saw bersabda, “…Sedangkan manusia yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk (memberi atau membalas) salam.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad jayyid).

Hamba yang shalih, tentu selalu memberi salam kepada saudaranya jika dia bertemu dengannya sambil tersenyum kepadanya, dan juga selalu menjawab salam. Jika dua orang muslim melakukan hal seperti itu, maka insyaAllah berguguranlah kesalahan (dosa) keduanya, seperti gugurnya dedaunan di musim kemarau jika mongering.

Saudara-saudariku tersayang rahimakumullah…

Hendaknya kita tidak mengganti salam dengan isyarat tangan atau model-model sapaan yang sering dibudayakan oleh orang-orang kafir. Diriwayatkan dari Anru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Bukan menjadi bagian kami, orang yang meniru-niru selain kami. Janganlah kalian menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani, karena salamnya kaum Yahudi adalah isyarat dengan jari. Sedangkan salamnya kaum Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan.” (HR. At-Tirmidzi).

Masih berkenaan dengan salam, maka dienul menyatakan tidak mengucapkan maupun menjawab salam orang yang sedang buang ari kecil/besar.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa pernah ada seseorang yang mengucapkan salam kepada Rasulullah saw ketika Beliau sedang buang air kecil, dan Beliau tidak menjawab salam yang diucapkan oleh orang tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

Selanjutnya merupakan hal terpenting dalam pengucapan salam, namun sepertinya masih sangat banyak KEKELIRUAN fatal yang kita dengar atau dapati setiap harinya. Sesungguhnya memulai salam itu adalah dengan ucapan, “ASSALAMU’ALAYKUM; BUKAN di tulis/di ucapkan dengan ASS atau SALAM, seperti kecenderungan kaum JIL yang tidak pernah mengucapkan ‘assalamu’alaykum’. Begitu juga assalamu’alaykum BUKAN diucapkan dengan LAMLEKUM, SLAMLEKUM, atau KUM, naudzubillah!

At-Tirmidzi, Abu Dawud dan lainnya meriwayatkan dari Jabir bin Sulaim, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikus-salam’, karena alaikus-salam adalah salam penghormatan kepada orang-orang yang sudah meninggal. Tapi, ucapkanlah ‘as-salamu ‘alaik’.”

Keterangan : As-salamu ‘alaik adalah dalam bentuk sapaan tunggal, namun untuk jamak berubah menjadi as-salamu ‘alaikum.

Saudara-saudariku kekasih Rasulullah yang kucintai lillahi ta’ala…

Di atas Jean juga menyertakan ketentuan bahwa setiap muslim diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk menjaga dan menghormati hak-hak sesame (IZIN). Berkenaan dengan izin ini, insyaAllah terdapat 2 prinsip yang perlu kita perhatikan dengan sebenar-benarnya;

1. Tidak melihat ke dalam rumah orang lain tanpa izin. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Baginda Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa melihat (mengintip) isi rumah suatu kaum tanpa mendapatkan izin dari mereka, maka halal bagi mereka untuk mencukil matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat An-Nasi’i disebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa melihat ke dalam sisi rumah suatu kaum tanpa mendapatkan izin dari mereka, maka cukillah matanya, tanpa ada diyat atau qishash.”

2. Tidak menguping pembicaraan orang. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwa Baginda Rasulullah saw bersabda, “…Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, sedangkan mereka tidak ingin hal itu terdengar orang lain, maka akan dituangkan pada kedua telinga orang tersebut lelehan timah pada hari kiamat …” (HR. Bukhari dan Muslim).


Barakallahu fiikum,
Wassalamu’alaykum wr.wb.

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...
Sarankan pengunjung lain untuk membaca tulisan ini juga.

Sabtu, 04 Desember 2010

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Saudaraku..... mungkin karena kesibukan,diantara kita sering menyingkat ucapan “salam” yang arti awalnya doa keselamatan justru menjadi “cacian” dan kata “jorok”.Lho bagaimana bisa?
Ucapan “Assalamu’alaikum”, , merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]

Saya seringkali menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti “Asw” atau “Aslm”. Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” . Namun yang sering saya dapatkan, adalah singkatan “Ass”. Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.

Marilah kita simak singkatan ini. Dalam kamus linguistik yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa Inggris itu adalah sebagai berikut;
“Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don’t be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat).

Padahal seperti kita ketahui ucapan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh adalah sebuah ucapan salam sekaligus doa yang kita tujukan kepada orang lain. Ucapan salam dalam Islam sesungguhnya merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Maka, apabila kita mengucap salam dengan hanya menuliskan “Ass”, secara tidak sadar mungkin kita malah mendoakan hal yang buruk terhadap saudara kita.
Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. Karena itu, penulis menyarankan, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap karena sedang menyetir di jalan, misalnya, solusinya cukup mudah adalah menulis pesan to the point saja. Tulislah “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari doa keselamatan Assalamu’alaikum menjadi “Ass” (pantat).
Jangan sampai awalnya kita ingin menyampaikan doa keselamatan yang terjadi justeru sebaliknya, mendoakan keburukan. Kalau boleh saya mengistilahkah, niat baik ingin berdoa, jadinya malah ucapan kotor.

Ucapan salam adalah ucapan penghormatan dan doa.Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka seharusnya kita membalas dengan sebuah penghormatan pula yang lebih baik, atau minimal, balaslah dengan yang serupa.Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

Hanya saja, kalau kita mengganti ucapan kalimat salam arti awalnya sangat mulia, maka,yang terjadi adalah sebaliknya, salah dan bisa-bisa menjadi umpatan kotor.
Karena itu, jika tidak berhati-hati, mengganti ucapan Assalamu’alaikum (Semoga sejahtera atasmu) dengan menyingkatnya menjadi “Ass” (pantat), ini mirip dengan mengganti doa yang baik dengan bahasa jalanan orang Jakarta, yang artinya kira-kira, berubah arti menjadi (maaf) “Pantat Lu!”

Singkatan ala Rasulullah
Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum ?????? ????? dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Itulah agama kita.

Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah. Artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.

Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan, bahwa salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu maujika aku tunjukkanpada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!” (HR. Muslim)
Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86. Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.
Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).

Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau.
Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu’alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa baraokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].

Nah dari tiga singkatan itu silahkanAnda pilih yang mana yang Anda inginkan tanpa harus menyingkatnya sendiri yang justru bisa menghilangkan nilai pahalanya. Tentu saja, jangan Anda lupakan, tiga singkatan itu sudah rumus dari Nabi yang dipilihkan untuk kita.
Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu’alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu’alaikum.
Karena apa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan “Assaamu ‘alaika ya Muhammad” (Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).

Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari “Assalaamu ‘alaikum”. Maka nabi berkata, “Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu ‘alaikum, maka jawablah dengan wa ‘alaikum (Dan semoga atas kalian pula).” [HR. Bukhari]
Tulisan ini, mungkin nampak sederhana. Meski sederhana, dampaknya cukup besar. Boleh jadi, kita belum pernah membayangkannya selama ini. Nah, setelah ini, sebaiknya alangkah lebih baik jika memulai kembali menyempurnakan salam kepada saudara kita. Tapi andaikata memang kondisi tak memungkinkan, sebaiknya, pilihlah singkatan yang sudah dipilihkan Nabi kita Muhammad SAW tadi. Mungkin Anda agak capek sedikit tidak apa-apa, sementara sedikit capek, 30 pahala kebaikan telah kita kantongi.